Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa, tapi aku tahu kalau aku pernah berharap kamu tercipta untukku.
Hanya saja untuk mengatakannya padamu, aku pikir cukup aku dan Pencipta perasaan ini yang tahu. Dan pembaca tulisan ini tentunya.
Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa, tapi aku merasa bersalah ketika meminta pada Pencipta rasa ini untuk mengabulkan harapanku agar kamu tercipta untukku.
Hanya saja untuk menangani apa yang sedang kurasakan ini cukup menghabiskan dayaku. Kuakui, aku tidak tau tentang bagaimana menghadapi keadaan seperti ini, tapi aku berusaha semampuku menyerahkannya pada pemiliknya yang hakiki. Dan mengelolanya dengan sebenar mungkin, agar tidak menjadi penghalang bagi kita untuk meraih surgaNya.
Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa. Tapi aku ingin meminta maaf jika aku sudah berani menatapmu dari kejauhan, atau merasa terluka mengetahui kamu memuji gadis lain. Maafkan aku.
Dan jujur, aku lelah mendengarmu dekat dengan dia, atau dia, atau dia. mungkin salahku juga karena aku memutuskan mengagumimu. Aku juga menyadari bahwa ketika aku memandangmu, ada banyak pasang mata yang juga memandang dengan sinar mata berbinar kearahmu. Tapi apa aku bisa memilih? Aku tidak pernah meminta pada Sang pencipta agar diberi rasa seperti ini padamu. Sejak mengenalmu, aku tidak pernah berharap untuk bisa dekat denganmu atau memilikimu. sama sekali tidak. Entah mengapa kemudian dalam perjalanannya perasaan ini ada dan bertahan lama sekali.
Tapi bukankah DIA pemberi segalanya? Maka DIA pula yang memberi rasa ini. Hanya saja aku belum mengerti, kenapa DIA menakdirkannya terjadi padaku sedangkan kamu ditakdirkan untuk bersama orang lain. Tolong bantu aku mencari artinya.
Aku tahu, menulis seperti ini sedikit percuma. karena aku tak pernah berani mengirimkannya secara langsung padamu. aku hanya berharap kamu membacanya ketika tanpa sengaja membuka dunia tanpa batas ini. Aku hanya.. entahlah. Aku hanya membutuhkan seseorang atau sesuatu untuk mengungkapkan yang kurasakan. Dan maafkan aku karena memilih media sosial yang sangat luas ini. Tapi aku melindungi identitasmu sebisaku. Sungguh..
Siang ini aku malu sekali ketika mengadu padaNya karena merasa lemah mengingatmu. Bagaimana aku merasa lemah untuk seseorang yang belum halal untuk kucintai? Mencumbui bayanganmu melalui dunia maya. membuka timeline twittermu, akun facebookmu. Berharap ada sedikit petunjuk untuk keputusan yang harus kuambil atas rasa ini. Maafkan aku memata-matai hidupmu dengan cara ini.
Dan sekarang aku berharap kelak akan tiba pula pada masa yang aku butuhkan. Masa dimana aku tak harus berdosa untuk mencintai ciptaanNya. Mungkin setelah ini kamu takkan pernah tersenyum jika bertemu denganku--Jika mungkin bisa bertemu--. Mungkin juga kau akan berlalu begitu saja. Mungkin juga kamu akan menganggapku tak ada. Mungkin juga kau takkan pernah berbicara padaku. Mungkin juga aku berhenti menunggu dering telepon darimu, tau pesan singkat darimu yang membicarakan hal yang tidak seharusnya. Atau mungkin aku yang harus menghilang dari peredaranku di orbitmu. Tak apa. Aku sudah memikirkan tiap kemungkinan yang akan terjadi. Aku sudah siap. Mungkin memang seharusnya begitu. Agar rasa ini tak semakin liar tumbuh dalam hati yang belum layak untuk menjamah hati makhluk indah sepertimu. Agar rasa ini tak menjadi pemberat langkahmu, atau langkahku. Agar rasa ini tidak meracuniku dan membuatku bersedih. Agar rasa ini tidak membuatmu canggung bersikap padaku. Agar rasa ini tidak menyakiti orang lain. Agar rasa ini tidak menghancurkan hidup siapa-siapa. Dan agar rasa ini menjadi kebahagiaan yang tepat...
Sebagaimana fitrahnya.
Hanya saja begitu lelah rasanya berdiri disini memandang gemerlapmu hari ini. Semoga IA memaafkanku untuk semua ketidakmampuanku menundukkan pandanganku terhadapmu.
Dan untukmu, aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa. Tapi semoga kau tercipta untuk seseorang yang tepat dan sudah seharusnya disisimu. Yang membahagiakanmu dan menjadi makmum yang baik. Yang menjadi teman dan jembatan yang sesungguhnya. Aamiin.
Aku hanya berharap jika tulisan ini dibaca, semoga tulisan ini mampu menyampaikan suatu harapan dan pelajaran agar perasaan cinta seperti ini menjadi media untuk kita memperbaiki diri. Dan perasaan yang belum bersambut tak seharusnya menjadi kapak penghancur. Bukan hanya aku dan kamu. Tapi semua orang yang membacanya.
Buatlah dirimu menjadi imam yang baik untuk istrimu, dan aku akan mempersiapkan diri agar menjadi istri yang baik untuk imamku kelak..
Jumat, 08 Juni 2012
Sepucuk Surat untuk Kesekian Kalinya
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.44 0 comments
Labels: Tulisan Bebas
Mungkin Memang Seperti ini Seharusnya (Bag.1)
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Sejuk. Kicau burung melebur dalam hiruk-pikuk aktivitas yang yang mulai bergeliat memadati ceruk-ceruk kehidupan.
Dan bukannya dilalui dengan berbaring menunggu gelap, dan detik selanjutnya menunggu gelap menjadi pagi kembali.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Ceria. semangat terkepul dalam segelas susu, teh, atau kopi hangat.
dinamika tentang harapan dan cita-cita sedang ranum-ranumnya dikejar.
Dan bukannya dilalui dengan memegang buku serta menggores pensil dan terdiam di keremangan kamar. menuliskan keputus-asaan dan berharap Tuhan membalas segala keluhannya dengan menyudahi kerja paru-paru atau detak jantungnya.
Resna menghela nafas. dia memandang nanar pada burung yang hinggap di teralis jendela kamarnya. dengan susah payah dia menggerakkan maju kursi roda yang sudah seminggu ini menopang tubuhnya.
'Hai.. kamu mau bermain? Aku sudah tidak bisa. Aku kemana-mana harus pakai kursi berjalan jelek ini.' Ujarnya.
'Andai aku bisa terbang saja sepertimu..'
'Na, sarapan sayang..' Bunyi pintu diketuk seiring dangan terdengarnya suara ibu. Resna mendongak dan tersenyum.
'Iya, Bu.. sebentar lagi..' Resna menggerakkan rodanya dan menuju pintu. Ibu membuka pintu dan mengambil alih kendali kursi roda Resna.
'Bu, Resna tidak usah sekolah lagi ya..' seketika Ibu terdiam dan berhenti tiba-tiba.
'Kenapa Resna bilang seperti itu?'
'Aku malu bu. Aku sudah tidak bisa seperti teman-teman. Aku mau menyusul ayah..' Resna mulai terisak. Dada ibu terasa ikut sesak. terbayang di benak wanita 40 tahun itu kejadian seminggu yang lalu...
Saat itu hujan gerimis. Resna sedang menyisir rambutnya ketika Ibu dan Ayah baru saja bersitegang. Resna segera berlari turun, dan mendapati ibunya menangis sesenggukan.
'Ibu kenapa?'
Ayahnya dengan dingin melewati Resna, tapi Resna menahan tangan ayahnya. dia tau dia cukup dewasa untuk tau sebenar-benarnya apa yang terjadi.
'Ayah mau kemana? Ada yang belum selesai disini.'
'Kamu anak kecil tidak usah ikut campur! kalau menurutmu ini belum selesai, Baik! Akan ayah selesaikan! Mulai sekarang, kita berpisah, Bu! kamu urus Resna. Aku akan urus surat-surat perceraiannya!' Teriak Ayah Resna.
Resna tercengang. seketika dia menahan tangan ayahnya lebih erat
"Ayah tidak serius mau begitu..' ucapnya parau. sementara ibunya semakin sesenggukan menahan tangis, dan hampir tidak bisa berkata apa-apa.
'Ayah serius Resna!' katanya gusar. Dia melangkah keluar rumah dan Resna mulai mengejar.
'Ayah..! Ayaaah..!'
Langkah ayahnya terhenti. melihat mata merah dan ekspresi geram ayahnya, nyali Resna menciut juga. tapi dia berteriak.
'Kalau ayah memang lebih memilih meninggalkan kami untuk wanita murahan di kantor ayah, silahkan! aku menyesal dilahirkan sebagai anakmu!'
Mendengar ucapan anaknya. Ayah Resna semakin kalut. secara tiba-tiba dia meringsek maju dan mendorong Resna sedemikian kuatnya hingga Resna terpelanting. tangan Resna sempat meraih stang motornya, tapi ternyata motor itu tidak cukup kuat menopang gaya yang bekerja pada tubuh Resna, hingga roboh dan menimpa kedua kaki Resna. Resna menjerit kesakitan, dan menjadi lebih histeris ketika melihat darah mengalir dari kedua kaki Resna.
Ayah Resna tertegun memandang kejadian itu, sedetik kemudian dia berteriak memanggil ibunya. Resna tak ingat apa-apa lagi hingga dia terbangun di Rumah Sakit keesokan harinya.
Ibu menghela nafas.
'Sabar ya sayang..' ucapnya sambil tersenyum. kemudian meninggalkan Resna di ruang makan.
Resna tersenyum pahit. kemudian kembali ke kamar dan membuka bukunya.
..Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. kelam, dan hambar. bukannya ceria dengan kicauan burung atau kupu-kupu yang beraneka warna membuai Sang Bunga.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Dingin, dan kesepian.. bukannya berkawan dan tertawa bersama mereka yang kau cintai, atau melihat mereka bahagia karena saling mencinta..
Resna tidak tau kapan tepatnya semuanya berantakan. dia tidak tau. atau mungkin tidak menyadari. atau mungkin sebenarnya terlalu disembunyikan. entah.
Dia hanya bertanya-tanya apakah jika dia menikah dengan Lian--kekasihnya yang sekarang-- dia juga kan mengalami kejadian pahit seperti ini.
Tiba-tiba dia teringat kalau sejak kemarin belum bertemu atau bicara pada Lian.
Dia ingin menghubunginya, tapi.. apa Lian mau menerimanya?
Bukankah dulu Lian pernah bilang padanya kalau Lian mencintainya melalui gerak luwes Resna ketika menari?
Dan sekarang Resna sudah tidak bisa menari.
Resna mengangkat ponselnya dan memasukkan nomor Lian, bersiap menelponnya. tapi kemudian mengurungkan niatnya dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci...
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.17 0 comments
Labels: Cerpen
Sepucuk Surat dari Hamba-Mu yang Mencinta
(Ini hasil temuan di sebuah buku diary. Dengan gubahan seperlunya agar tidak terlalu vulgar)
***
ya Rabb..
hamba-MU ini bukan orang yang baik. tapi semoga saja hamba tidak menulis ini dari tempat yang jauh darimu.
ya Rabb, hamba sedang mencinta. sudah dalam tempo yang cukup lama. bertahun-tahun waktu hamba habiskan untuk menjaganya tetap disisi. dengan segala polemik dan ujian dari-Mu, namun hingga saat ini hamba belum pernah sedetikpun melupakan dia, baik dalam suka maupun duka. baik dalam keadaan yang diketahuinya maupun tidak.
ya Rabb,
maafkan hamba yang memilih mencintainya. namun seorang kakak berkata bahwa tak ada pilihan yang salah.
maka hamba beranikan diri untuk tetap mencintainya.
ya Rabb..
maafkan hamba yang sudah memilih jalan seperti ini. Hamba memilihnya ya Rabb. dengan harapan cinta hamba bersambut manis, dan hamba mampu untuk membawanya lebih dekat dengan-MU.
maafkan hamba yang memilih cara yang tidak KAU sukai untuk mencintainya.
tapi hamba berfikir bahwa semoga dengan cara seperti ini hamba mampu masuk kedalam hatinya dan menanamkan asma-MU padanya. agar dia mengingatmu. agar dia tau bahwa hamba mencintainya dengan seluruh hidup hamba.
hamba tidak tau, jika ini dosa, hamba bersujud memohon ampunan-MU ya Rabb..
Kami belum halal, ya Rabb..
hamba tau benar. tapi hamba sudah berani untuk tetap menahan tangannya. mungkin memang karena kelemahan hamba, kelemahan hati hamba berhadapan dengan cinta.
tapi bukankah cinta itu karunia-MU yang fitrah?
maafkan cara hamba yang menodai fitrah dari-MU ya Rabb..
hamba hanya-lah orang yang awam atas ajaran-MU, dan hanya tau bahwa cinta adalah perasaan sayang kepada makhluk ciptaan-MU.
Maafkan hamba-MU yang kerdil ini ya Rabb..
hamba tidak tahu apakah ini suatu kebodohan, atau apalah.
tapi jika diluar sana banyak orang yang mencari pasangan yang sangat baik, maka biarkan hamba untuk tetap disampingnya jika memang dia calon imam hamba.
teguhkan hati hamba untuk terus mengingatkannya dan membawanya dengan perlahan untuk semakin mendekat ke arah-MU.
ya Rabb, engkau maha mengetahui.
Dan Kau-pun tau bahwa hamba sudah mencoba meninggalkannya. dengan berfikir bahwa kami akan kembali dipertemukan dalam kuasa-MU yang tak pernah kuduga.
Tapi hingga detik ini, setelah tahun-tahun ini hamba lewati dam masih saja hamba belum bisa mematikan rasa cinta ini. Dan kami masih bersama. Mungkinkah KAU memang mengutusku untuk mengingat-Mu dag mengingatkannya akan Engkau melalui cinta ini?
ya Rabb, hamba mencintainya. Dan hamba mencintai-MU.
maafkan hamba membagi cinta ini ya Rabb..
maafkan hamba karena berharap hati hamba yang mencintai-MU mampu membawa hamba kembali dalam pelukan-MU dan terhindar dari murka-MU.
padahal hamba tau benar, terlalu banyaK kesalahan hamba pada-Mu.
maafkan hamba yang begitu egois.
tapi tolong hamba ya Rabb.. beri hamba kekuatan untuk menjalani cinta ini. untuk membawa Calon imam hamba kelak terus menyebut-Mu.
Hamba tidak menginginkan orang selain dia.
berkali-kali hamba katakan itu padanya.
hamba akui dia tidak sempurna, bahkan pernah melenceng dari-MU.
Begitu-pun hamba.
maka kuatkan hamba, izinkan cinta ini menjadi jalan kami untuk kembali menatap lurus pada-MU.
ya Rabb..
cinta itu suci, maka maafkan hamba menodainya dengan cara yang seperti ini. maka maafkan hamba karena tidak menjaganya dengan baik.
Maka maafkan hamba karena melukai perasaanya atas nama cinta.
tapi Kau tau, bahwa tak pernah ada sedikitpun kebohongan ketika hamba mengatakan,
'Aku sayang kamu, Mas..'
ya Rabb, hamba hanya orang awam. begitu-pun dia yang kucintai.
Hamba bukan orang yang religius, begitu-pun dia yang kucintai.
hamba bukan pula orang yang baik dan ber-hak atas surga-MU, dan mungkin begitu-pun dia yang kucintai.
Tapi sesungguhnya Engkau tetap ada dalam hatiku, dan hamba yakin, begitu pula dihati dia yang kucintai.
Hamba meminta maaf atas segala kesalahan hamba pada-MU, dan pada dia yang kucintai, dalam hati yang mencinta ini.
Kuatkan-lah kami. Panggillah kami dengan cinta-MU ya Rabb..
***
(Sebuah diary, tertanggal di suatu hari yang berarti)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.16 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Kenapa Tak Kau Katakan
Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan kembali disini, dan menghirup bau tanah tempat ini sendirian.
Sudah cukup lama sepertinya aku meninggalkan tempat ini, dengan alasan paling pengecut yang pernah kuberikan.
Seandainya saat itu kamu mau mengatakan apa yang membuat kita mengambil jalan yang sangat jauh dari bayanganku..
Hei, Yulian. Dimana kamu sekarang?
***
Esok ini aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Lengang sekali. tidak seperti biasanya yang selalu ramai dikunjungi anak-anak. Ohya, aku ini siswa baru di salah satu (baca: satu-satunya) SMA Negeri di Ibukota Kabupatenku.
Diujung jalan aku melihatmu terduduk sendirian diatas pagar tembok dan menatap lurus kearah parkiran sepeda motor siswa. Aku tidak tau siapa kamu. Aku penasaran dan ingin sekali tau. Siapa anak kurang waras yang memilih duduk di pagar tembok sepanas itu? Syaraf kulitnya pasti rusak. Atau dia mahluk planet berkacamata yang terdampar di bumi.
Aku termangu sepersekian detik sebelum kembali memutuskan untuk melewatimu.
Aku menghitung langkah demi langkah sebelum tiba tepat disebelah pagar tembok tempatmu duduk, sampai akhirnya ketika sampai pada langkah yang kedua puluh empat aku sudah melewatimu sejauh 2 meter.
Kamu dibelakangku. tepat dibelakangku. aku inging sekali menoleh dan melihat senyummu. Tapi.. ah. sudahlah.
Kusadari, aku memang mengagumimu. kacamata yang bertengger manis dihidungmu, gaya cuekmu, dan garis wajah tegas itu.
Kulirik penanda kelas di lengan kirimu. Oh, kelas tiga. dia lulusan.
Aku ini siapa?
Mungkin aku hanya berani menatapmu dari kejauhan dan membiarkanmu berlari secara bebas disudut-sudut mataku.
Aku suka. Aku menikmatinya. Kamu terlalu sempurna dan aku nggak mungkin menjangkaumu.
Hingga pada...
'Cha.. temenin aku buat friendster yuk'
Githa menyenggol tanganku yang sedang menopang dagu.
'Sial. Males ah. nggak minat banget.' sambarku cuek.
'Chaaaaaa... ayolah..'
'Oke. tapi beliin es krim.'
Githa meringis
'Oke apa aja deh..' Akhirnya dia menyerah. Seketika senyumku mengembang.
Jadi ya.. ya.. begitulah. Akhirnya aku punya juga jejaring sosial, sama seperti anak-anak lain.
One Friend Request : Yulian Bowo Ardi.
Grobogan, Jawa Tengah.
Accept Friend Request
klik.
Siapa ini? cowok berkacamata hitam gaya 80-an?
Norak sekali, pikirku.
Dan entah siapa yang memulai, aku terlarut dalam percakapan yang tak ada habisnya.
'bip bip'
One message received
open klik.
'Hai. Icha bukan?'
'ini siapa?'
'Mas Yulian. temen friendster.'
Dheg.
Tuhaaan,, mas Yulian? mas Yulian teman friendster itu?
Yang mana orangnya?
'Haha... iya mas yul.. :P'
'Dhek, dulu kamu liat aku kok nggak nyapa? Padahal aku dipagar tembok yang kamu lewatin lho..'
Dheg!
Jadi itu mas Yulian? Cowok planet itu mas Yulian?
Refleks tanganku membuka kembali jejaring sosial dan mengobrakabrik seluruh info di profilenya.
Kemudian terdiam dalam satu foto. seorang cowok dengan wet look hair duduk diatas pagar pembatas yang menghadap parkiran siswa. lambang SMA tempatku terdaftar sebagai siswa tampak jelas di lengan kiri seragamnya.
Aku menghela nafas panjang kemudian menutup laptop dengan perasaan tidak karuan.
Tuhan, kenapa kesan yang timbul seperti ini?
***
Aku tersenyum mengingat saat-saat pertama melihat dan mengenal Yulian. Aku suka sekali melihatnya. Badannya yang agak membungkuk, matanya yang tampak acuh terhadap lingkungan sekitarnya yang ternyata selalu tajam dan waspada, langkahnya yang ringan, dan senyum tipis yang menghiasi wajahnya, kacamata yang menambah kesan smart dan charming, kulit hitam tapi sangat cocok dengan kepribadiannya.. dan bulan-bulan pertama menjadi temannya terasa menyenangkan. hari-hariku menjadi semarak dengan sapaannya melalu pesan singkat.
Aku terbuai kembali..
***
'Cha.. ayo cepat. kamu mau terlambat ngambil rapor apa? Percuma dong bapak izin mengajar kalau kamunya lelet.' Teriak bapak dari teras rumah.
'Bentar pak.. lagi pake sepatu nih... bapak sih nggak mau makein' Sahutku.
Thug!
Sendok makan yang dibawa ibu mendarat tepat di kepalaku
'Bocah kok kurang ajar.' Kata wanita yang kucintai itu. Aku meringis jahil kemudian berlari menghampiri bapak yang sudah siap diatas motor.
'Apaapaan? Ke sekolah pakai kaos kaki cuma semata kaki gitu? tinggikan!'
'Mangke mawon pak. Telat lho.' kataku sambil melompat ke jok belakang. dari kaca spion kulihat bapakku cemberut.
Ya.. begitulah bapak. disiplin sekali. Kadang aku jadi seperti pesakitan kalau bapak sedang menginspeksi penampilanku.
Sampai disekolah kulihat teman-teman sudah berjajar rapi didepan kelas dengan wajah tegang. Yaiyalah. ini Kenaikan kelas! Waktu dimana hampir 90% siswa disini berharap dapat menempati kursi di kelas IPA.
Aku termasuk yang beruntung karena berhasil menyabet salah satunya. Bisa ketebak lah.. Bapak terlihat sumringah ketika keluar dari kelasku.
'Bip Bip.'
One message received
Oh Tuhan.
Sender : Mas Yulian
Selamat ya dhek Cha.. bisa ke gerbang sekarang? mas diluar.'
yes! sorakku dalam hati.
Dan ya.. sambil berlari kegerbang aku merasa waktu menjadi semakin indah dan semarak seiring kembalinya mas Yulian, setelah terakhir kali aku melihatnya dipagar sekolah ketika malam perpisahan. dan kemudian kudapati friendsternya tak lagi aktif. Kudapati hatiku hampa, tapi aku tak berfikir lebih jauh walaupun ribuan pertanyaan atas hilangnya Yulian mendesak masuk keotakku. tapi sekarang mas Yulian disini. Mas Yulian disini!
'Dhek Cha mas anterin pulang ya?' kata Yulian
'Eh?' Aku tersentak
'Dhek Cha mas anter pulang ya? nggak papa kan?'
'Eh?' ulangku, aku merasa seperti orang idiot yang bodoh
Yulian memandang dalam kearah mataku.
'Dhek Cha, mas anter dhek Cha pulang ya? mas pengen ketemu orangtua dhek Cha. Nggak papa kan?'
Butuh sepuluh detik untukku mencerna perkataan Yulian barusan. gelompang perasaan bimbang seketika menyapu hatiku. Kurasakan ekspresi wajahku membeku.
'Mas mau bilang sama bapak ibu dhek Cha kalau mas mau serius sama dhek Cha.' Katanya lagi sambil menyodorkan helm kearahku. Aku menerimanya dengan linglung.
'Tapi mas.. kenapa mas ngilang gitu aja beberapa bulan kemaren?' tanyaku
kulihat semburat senyumnya mengembang
'Ada hal yang nggak bisa dhek Cha tau sekarang. sekarang ayuk pulang.'
Dan sudah. meski ganjil, pernyataanya dihadapan orangtuaku menjadi satu rona bahagia yang membuatku lupa akan keganjilannya.
***
Aku mengusap pagar pembatas yang menghadap ke parkiran siswa ini untuk kesekian kalinya, dimana dulu aku dan Yulain pernah saling memandang dan merasakan senja memagut hati kami. kami mereguk indahnya dan berharap waktu berhenti hingga kami bisa lebih lama menikmati semuanya berdua disini..
***
Panas sekali hari ini. Tuhaaaan.. Panas sekali. Dan aku berjalan di jalan sepanas ini bareng panda jantan item yang menyebalkan.
'Cha buruan ngapa. Panas. Laper.'
'Berisik! Nggak ngeliat jalanku udah kayak nenek-nenek kehilangan tongkat? Lo cerewet gue gembesin juga. Sekarang jalan aja. Nggak usah komen.' Sahutku ketus. dan panda jantan item sahabat saya itu hanya memperlihatkan ekspresi penuh dendam.
'bip bip'
'Cha hape lo bunyi.'
'Diem. Gue udah tau.'
open. KLIK
Dhek Cha, mas sayang banget sama dhek Cha. Apa yang mas rasain, ya itu yang mas katakan.
Beratus ratus kali kuulangi membaca sms itu.
Haaaaaa?
Kurasakan euforia kegilaan mengambil alih fungsi otakku mengkoordinasikan senyum dan gerakanku. aku melonjaklonjak kegirangan
plak! Gilang memukul jidatku
'Cha, Lo SEHAT? ngapain lo senyum senyum?' tanya panda jantan item sahabat kesayangan saya itu.
Aku menatap mata Gilang dengan tatapan penuh arti.
'Pandaaaaa... gue bahagia!' teriakku.
***
Aku tersentak dan tertawa. Tuhan, berapa lama aku melamun?
SMA itu memang indah sekali ya,, indah sekali. Aku bahkan tidak menyangka tahun-tahun terbaik di SMA sudah ku lampaui hampir 2 semester ini.
Aku menghela nafas panjang.
Aku membiarkan tiap sel udara di tempat ini memasuki kembali paru-paruku. Mungkin saja udara ini membawa Yulian kembali mengisiku.
Yulian. Ah.. cowok planet itu.
Cowok planet yang bahkan aku nggak menyangka, berpisah dengannya akan membawa rasa yang luar biasa dan jauh dari kontrolku.
Sakit juga ya.. pikirku.
Tuhan, tolong. Tidak seharusnya aku begini kan? Aku sudah sejauh ini bertahan dan berusaha mengertinya.
Kenapa dia tak pernah mengatakan sesuatu padaku?
Aku hanya lelah mencari. Aku... hanya ingin ditemukan.
Aku tau Yulian bukan tipe orang yang terbuka. baik soal perasaan atau masalah. tapi dia hanya perlu bicara padaku. hanya perlu bicara. Kenapa tak kau katakan? Kita seharusnya bisa memperbaiki ini..
Aku bicara sendiri seolah sedang berhadapan dengan Yulian.
***
'Dhek cha, mas sayang banget sama dhek Cha.'
Kata Yulian sambil mencoba mencabuti bulu halus ditanganku. Aku mengelak dan memukul lembut tangannya. sedemikian rupa hingga kudapati tangannya mengenggam jemariku. Baru aku berusaha serius menatapnya.
'Kok ngomongnya gitu mas? tumben sekali. biasanya susah banget disuruh bilang sayang. padahal sama pacarnya juga.'
Aku merajuk manja. Tapi ada seuatu yang aneh pada ekspresinya. kaku dan tidak tersentuh. Aku mengerti bahwa saat ini dia tidak sedang main-main.
'Mumpung masih sempat dan masih bisa dhek..' Katanya sambil menatap dalam mataku.
Aku terdiam. Apa maksudnya? mumpung masih bisa? jadi?
'Mas.. ada apa?
Dan kau hanya tersenyum. dan diam sejenak.
'Ada yang dhek Cha nggak bisa tau sekarang..' ujarnya lemah. Lalu membuka bibir seolah ingin bicara, tapi kemudian mengurungkannya.
Menit-menit kediaman antara kami terasa begitu menyiksa. aku ingin angkat bicara, tapi dia mendahuluiku.
'Dhek, mas nggak bisa. Mas tau adhek butuh cahaya yang bisa menerangimu. yang bisa meluangkan waktu buatmu. Dan mungkin sekarang bakal ada cahaya lain yang bisa bikin kamu nyaman. Raih cahaya itu dhek..'
tapi kenapa?
Aku terdiam. Jangan yang kutakutkan, please.
'Maafin mas ya dhek. mas sayang adhek tapi mas tau mas nggak akan bisa. Biar mas yang jaga rasa ini dhek..'
Tiba-tiba emosiku meluap.
'Seharusnya mas bilang kalau dari awal mas nggak pernah sayang sama aku! Mas bilang mau serius, mana buktinya? Ada masalah apa? diluar sana juga banyak yang ngalamin masalah tapi bisa bertahan. kenapa mas nggak?'
marah, bingung, takut, dan sakit hati semuanya bercampur jadi satu. Aku gemetaran menahan emosi.
'Maaf dhek.. kamu nggak perlu mojokin mas dengan pertanyaan seperti itu. Ternyata setelah 14 bulan-pun kamu belum kenal siapa aku dhek..'
Oh, GOD. tolong beri alasan yang sedikit rasional.
'Apa? Aku harus gimana mas?'
'Maafin mas dhek..'
Sedetik kemudian kulihat Yulian bangkit dan berjalan menjauh.
Aku tidak tau apa yang terjadi barusan dan tiba-tiba semuanya berakhir.
***
Aku menyeka air mataku. Sulit sekali untuk menahan ingatan-ingatan itu untuk tidak datang kembali.
Bagaimana bisa?
Terlalu rumit ya Yul? sampai kamu memutuskan untuk berhenti saling menyapa.
Tapi ini sakit sekali. Aku belum bisa pergi dari bayangmu.
Sesakit ini kah Yul?
Aku menghela nafas..
Mencintai terlalu dalam kepada seseorang bisa membuat kita tidak bisa mencintai lagi.
Kupikir itu benar, bagaimana rasa itu, yang muncul untukmu, telah membunuh kemampuanku untuk mencintai pria lain selainmu. Bahkan aku memilih hidup menahan sakit dan kerinduan yang membara terhadapmu selama lebih dari 7 tahun daripada membuka hati untuk orang lain.
Aku mencintaimu sejak awal aku melihatmu di pagar pembatas sekolah, 9,5 tahun yang lalu.
dan bahkan ketika semuanya berakhir tanpa kutau apa penyebabnya aku measih menginginkan untuk terus mencintaimu dan hanya hidup denganmu.
merindukan segala yang kulalui bersamamu. dan setelah selama ini, semuanya masih mengingatkanku padamu. hari-hari yang kulalui begitu membunuh.. tapi aku masih hidup dengan nyawa yang terpincang karenamu..
Ah, Yulian.. dimana kamu sekarang?
Tetes airmata tak lagi bisa kubendung. aku segera meraih tasku dan mengaduk-aduk isinya untu mencari tissue. hampir saja kutemukan ketika aku melihat dua sosok menusia berjalan kearahku.
Aku menghentikan aktifitasku sementara dan mencoba menerka.
Siapa mereka? kelihatannya sama orang dewasa-nya sepertiku. Tapi apa yang mereka lakukan disini? apakah mereka guru baru disini?' pikirku.
Aku meloncat turun dari pagar pembatas yang menghadap kearah parkiran siswa.
dan berdiri memaku ketika menyadari siapa yang berada dihadapanku...
'Sedang apa kamu disini, Cha? duduk diatas sana kayak masih ABG aja.'
sapa Yulian kaku
Aku terdiam, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dan kuhadapi. aku begitu ingin berlari memeluk Yulian. tapi kuurungkan ketika kulihat tangan Yulian terkait mesra dengan tangan yang lain.
Aku mendongak untuk melihat siapa yang digandheng Yulian.
Seorang wanita. cantik. dari wajahnya kukira usianya lebih tua dariku tapi masih begitu segar dipandang.
Sedetik kemudian aku tersadar...
Mas Yul.. jangan katakan dia.... aku menjerit merana dalam hati.
'Cha, aku mau minta maaf sama kamu atas apa ayang aku lakukan ketika masih sama kamu. Sekarang aku ingin jujur segalanya sama kamu.. tapi tolong, jangan marah sebelum aku selesai bicara..'
kata Yulian kemudian duduk berlutut dihadapanku. Aku ingin mencegah tapi terasa kaku untuk mengulurkan tangan padanya. Aku sudah menebak apa yang akan terjadi tapi tetap menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut satu-satunya yang kucintai.
'Cha.. maaf. sejak melihamu berjalan melewatiku di pagar ini aku sudah merasa terpagut sama kamu. aku menyadari betul kalau aku jatuh cinta sama kamu. tapi saat itu aku sedang berada dalam jalinan cinta dengan Iva,..'
katanya sambil memandang wanita yang datang bersamanya. Iva menunduk. mungkin takut padaku.
Aku menegangkan leher dan menelan ludah dengan pahit.
Kenyataan pertama bahwa kau mencintai dan dicintai orang yang telah menjadi milik orang lain sudah cukup membuat duniamu hancur.
Apa lagi?
'Itulah kenapa aku menghilang ketika baru beberapa bulan mengenalmu. Aku merasa sudah membuaimu terlalu tinggi dan membuatmu berpikir aku mencintaimu. itu salahku.'
lanjutnya kemudian terdiam. aku merasa jatuh kesumur tanpa dasar.
'Lanjutkan!' ucapku serak
'Tapi kemudian aku menyadari aku nggak bisa hidup tanpa kamu. lalu kuputuskan untuk mencarimu kembali. tapi saat itu aku sudah mnyelesaikan ceritaku dengan Iva. Hanya saja...' dia tercekat suaranya sendiri.
'Teruskan!' Suaraku tegas menuntut penjelasan.
'Hanya saja itu tidak berlangsung lama. 8 bulan sebelum aku memutuskan hubungan denganmu aku bertemu kembali dengan Iva dan meluapkan segalanya. perlu kamu tau, aku... ingin sekali melakukannya denganmu. tapi aku tidak bisa. maksudku aku ingin sekali melampiaskan hasratku padamu dan melakukannya sambil bicara betapa aku mencintaimu. tapi aku tidak mungkin melihatmu rusak hanya karena mencintai lelaki sepertiku. jadi kuputuskan melakukannya dengan Iva. Iva setuju karena dia masih mencintaiku dan ingin membuatku bahagia denganmu. Tapi ternyata aku salah..'
Aku mengigit bibir hingga berdarah. aku mengusapnya. tapi sakit hati yang kurasakan telah membuatku mati rasa dengan sakit terhadap fisikku.
Aku menahan airmataku agar tidak keluar sekeras mungkin. Yulian mulai bicara lagi.
'Maafkan aku, Cha. tapi ternyata perbuatanku membuat Iva mengandung anakku. karena itulah aku meninggalkanmu. tapi aku tidak berani berterus terang karena takut kau terluka..'
'Tapi kau melukaiku dengan membuatku bertanya-tanya selama bertahun-tahun..' akhirnya aku terisak
aku memandang nanar pada Yulian. bagaimana bisa ini terjadi atas nama cinta?
'Aku tau. dan aku minta maaf. aku telah menikahi Iva... dan aku....'
'Cukup Yul!' potongku. aku menangis histeris.
'cukup sekali kuhabiskan waktu 10 tahun untuk mencintaimu. aku kuliah. meninggalkan tempat ini, mengejar pekerjaan. dan kembali kesini untuk menemuimu. Hanya untuk berkata padamu bahwa karena kamu-lah aku seperti ini. Bahwa untukmulah aku menunggu dan tidak berubah sama sekali. Dan sekarang?...'
Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. sedetik kemudian aku sadari telah berlari meninggalkan mereka.
***
Keesokan harinya aku melangkah perlahan kepintu rumah Yulian dan Iva, yang kudapat alamatnya dari temanku.
Aku membuka lipatan dan membaca surat yang kubawa untuk Yulian.
Biarkan Bunga Rumput itu Tetap Menari
Bunga rumput itu tertunduk lesu
Menari dialunan permainan sang waktu
Serapuh batang rerumputan layu
Sekering udara gurun yang beradu
Saat kau dan aku bertemu
Dan kau selalu bilang,
' Takkan kubiarkan bunga rumput itu tetap menari
Jika sang angin membuainya terlalu tinggi
Jika Mentari janjikan sinarnya sendiri
Tapi sbenarnya semua itu tak ada arti.. `
Kamu juga selalu bilang,
`Takkan kubiarkan bunga rumput itu tetap menari
Jika Leluasanya mbuatnya berpaling dari sini
Jika lambaiannya isyaratkan salam utk pergi
Dan mredupkan keindahan ilalang yg jua hampir mati.. `
Tapi , Kusadari itu hanya mimpi
Ketika kau katakan padaku kau tak rela mLepasku dari diri,
tapi nyatanya kau tak datang kembali
Aku bilang,
` Biarkan bunga rumput itu tetap menari
Karena harapnya tlah terkhianati
Karena kelopaknya tlah terhempas dari pelangi
Leluasanya tak mampu menahanmu disini
Lambaiannya isyaratkan kau pergi
Sang angin tlah mbawamu berlari
Mentari pun tak sanggup dpandangnya lagi
Pada bunga rumput itu tertinggal janji
Tapi sang pejanji tlah mengingkari
Shg batangnya tak mampu tegak Lagi
dan meski hati tak kuasa melihatnya berjuang hindari mati,
kumohon...
Biarkan Bunga Rumput itu tetap Menari... `
Semoga kau bahagia. Sampaikan juga permintaan maafku pada Iva
Aku membacanya sekali lagi kemudian memasukkannya ke amplop, dan menyelipkannya dibawah pintu rumah Yulian.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.15 0 comments
Labels: Cerpen
