Well, sore ini (16/10-2011) aku dan salah seorang teman melintas di pertigaan jalan di kota ini.
miris banget pas ngliat ada anak kecil umur 8-9taunan lagi nggendong adheknya yang mungkin sekitar 1 taunan, duduk di pinggir taman pembatas jalan.
walo sekilas, jelas banget kalau anak kecil itu lagi berusaha ndiemin adheknya yang lagi nangis, padahal kita tau, jalan semarang begitu panasnya. sementara kendaraan lalulalang banyak banget dan pasti membahayakan mereka. tapi tak ada satu-pun kendaraan yang peduli (mungkin termasuk aku, karna aku juga cuma lewat begitu saja)
tapi Guys,, ternyata keadaan kayak gini mengganggu banget.
bagaimana bisa kita semua cuek dengan hal-hal semacam ini ? bayangkan kalo itu adhek kita, atau (mungkin) anak kita.
tidakkah pemandangan seperti ini menyakitkan sekali ?
Lalu aku berfikir, salah siapa sebenernya keadaan ini ?
orang tua yang mengabaikan kemerdekaan masa kecil mereka-kah ?
atau pemerintah yang tidak memperhatikan mereka ?
atau itu justru SALAH KITA yang tidak mengindahkan tatapan mata mereka yang kepanasan, dan kulit mereka yang menghitam ? sedangkan kita, berada dalam keadaan yang jauh berlebih dibanding mereka.
secara pribadi-pun aku malu. sebagai orang yang sekarang sedang belajar menjadi guru anak seusia mereka, aku berani menulis impian SEKOLAH GRATIS UNTUK ANAK JALANAN. tapi hari ini, aku disadarkan tuhan kalau ternyata, tantangannya lebih besar dari yang aku kira. sedangkan aku cuma lewat begitu saja ketika melihat mereka.
pernahkah anda berfikir demikian ? sedikit saja ? ataukah kita hanya berfikir bagaimana caranya menuntut pemerintah sedangkan kita tidak berbuat apa-apa ?
lalu aku berfikir lagi, langkah tegas apakah yang harus kami tempuh ya Rabb ? untuk membebaskan mereka dari debu jalanan yang bisa aja mengganggu pernafasan mereka.
sedangkan pemerintah juga sudah mengatur dalam undang-undang tentang nasib mereka.
sedangkan orangtua mereka sudah menahan nafas demi mereka--tak akan ada orangtua yang ingin anaknya terlantar dijalanan--,
sedangkan kami --segelintir orang-- pun sudah berusaha membantu mereka semampu kami.
ya Rabb, kiranya jangan tambah lagi jumlah manusia yang tidak peduli pada mereka.
kiranya jangan lagi KAU tambah kebutaan kami akan mereka, jika justru kami-lah yang menyebabkan anak-anak polos-lucu-dan belum tau apa-apa itu terkorbankan masa depannya.
dan kini GILIRAN KITA.
APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK MEREKA YANG MENATAP KITA DARI PINGGIR JALAN ???
#dedicate to Kintan Siwi Andhiniari dan Wildan Akbar Alfiansyah, adhekku tercinta.
belajar yang bener ya dhek.. mbak sayang adhek..
Minggu, 16 Oktober 2011
Tatapan anak kecil dipinggir Jalan itu...
Posted by Kharissa Widya Kresna at 03.36 0 comments
Labels: Kepedulian - Kemanusiaan
Jumat, 14 Oktober 2011
Sudah Berapa Lama Tidak Hujan, Ya Rabb ?
Sudah berapa lama tidak hujan ?
Aku sudah rindu berlari dibawahnya dan membiarkan air dari sudut mataku menetes bersama hujan.
Sudah berapa lama tidak hujan ?
Sudah terlalu keringkah hati dan jiwa ini untuk terbasahi kembali ?
ingin sekali kulempar semua ini dan berteriak, Aku rindu hujan !
Betapa ingin aku memeluk semua ini untuk meniriskan resahku.
Aku rindu hujan yang membawa rinduku padanya.
Hujan yang membawa semua asaku tentangnya.
Hujan yang membawa bayangnya menemaniku.
Hujan yang menceritakan ketulusannya.
Hujan yang menghapus semua sedih dan keraguanku.
Hujan yang mendinginkan aku ketika berkobar dalam apiku.
dan Hujan lah yang menjadi alasanku bersamanya.
Hujan yang membuatku gelisah dan begitu tenang disaat yang sama.
Hujan yang membuatku sangat lemah dan sangat kuat disaat yang sama.
Hujan yang membuatku sangat kekanakan tapi juga sangat dewasa disaat yang sama.
Dan Hujan...
yang membuatku bertahan ketika aku begitu ingin menyerah.
Karna hujan adalah nafasnya dalam nafasku.
Hujan adalah dirinya dalam diriku.
Hujan yang tenang itu... DIA.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 15.52 0 comments
Labels: Puisi - Curahan hati
Selasa, 11 Oktober 2011
Sepucuk Surat... (Lagi)
by Malfactor Tertatih on Tuesday, April 26, 2011 at 4:46pm
Listen to me carefully...
Hey, Dear... :)
Apa lagi yang bisa aku tulis ?
nggak terlalu banyak, mungkin. karna justru terlalu banyak senyum yang kau hadirkan, sampai aku nggak tau yang mana yang akan aku ceritakan pada dunia.
Hey, Dear...
Mungkin kita memang sangat berbeda dari pasangan-pasangan lain diluar sana.
seperti saat ini. kamu mungkin bakal jarang banget mengungkapkan sesuatu tentang aku, sedangkan aku menulis milyaran kata dipuluhan note seperti ini, yang semuanya tentang kamu.
Hey, Dear...
kau itu unik.
setauku, tak banyak mahluk berjenis kelamin pria yang perasaannya peka kayak kamu.
Aku belum pernah tau ada cowok yang super cuek diluar, tapi ternyata punya firasat kuat tentang pasangannya.
Kamu mungkin satu-satunya cowok yang maksa aku nggoreng telur tengah malem cuma biar aku gendut, padahal aku berusaha keliatan langsing, biar kamu seneng. kalo gitu, aku harus ketawa ato cemberut?
Kamu mungkin juga satu-satunya cowok yang dengan polos ngasih kaos setengah basah sambil bilang,
"karena aku nggak pinter mbungkus, cuma kulipat asal-asalan nggak pa-pa ya.."
Yang akhirnya bikin aku setengah mati nahan airmata, tapi aku nggak bisa berhenti ketawa.
dan yang jelas, kamu satu-satunya cowok yang bisa bikin aku berhenti kecanduan hujan.
dan aku seneng waktu kamu nyuruh aku belajar dengan tegas. padahal aku selalu ngulur-ngulur waktu dan ngajak ngobrolin segala hal biar bisa ratusan kali smsn sama kamu.
Aku selalu seneng :
Karena kamu nggak pernah menutupi apa-apa tentang kamu dari aku.
Karena ketika kamu mimpi aku selingkuh, kamu bilang itu mimpi buruk.
Karena kamu nemenin aku diRumah Sakit.
Karena kamu ngikutin aku ma kakakku ke kantor pos.
Karena kamu selalu tau tiap aku boong.
Karena kamu ngasih motivasi yg luar biasa.
Karena kita nggak sering ketemu padahal rumahmu dibelakang sekolahku.
Karena kamu slalu ngopy-in aku film.
Karena kamu ngliat aku dari semua sisi.
Karena kamu tetep senyum pas liat mukaku yg imut dalam keadaan jelek banget.
Karena kamu ngebiarin aku jadi tetep ngrengek2 manja, tapi ngajarin aku bedain suasana.
Karena kamu nggak pinter ngeluarin kata-kata puitis buat nyenengin aku, tapi mengatakan kalimat sederhana yang dalem banget artinya.
Karena kamu bikin aku mati-matian berusaha ngertiin kamu dengan cara-cara dewasa.
Karena kamu ngebawain 3 lollipop kesenenganku pas aku 5 hari berada bermil-mil jauhnya dari kamu.
Karena kamu satu-satunya orang ngedoain aku cepet dapet KTP diultah ke-17-ku taun ini...
Karena kamu ngasih apa yang aku butuh, bukan apa yang aku pengen.
Karena kamu selalu bikin kejutan pas bilang kamu kangen aku.
Karena kamu bilang sayang ke aku dengan polos dan tanpa ada rayuan sedikit-pun.
Karena kamu mau ijin kerja buat nganterin aku daftar kuliah.
Karena kamu gampang banget ketiduran pas lagi asik ngobrol.
Karena kamu manggil aku `cil` atau `sayem`.
Karena kamu seneng nyabutin bulu halus ditanganku.
Karena kamu mbeliin kaos couple buat aku.
Karena kamu selalu mau ngasih kesempatan buat aku.
Karena kamu percaya aku.
Karena kamu nggak pernah lupa ngasih dopping belajar.
Karena kamu slalu bikin aku khawatir tiap kamu lupa bawa HP.
Karena kamu ngebiarin aku berfikir sendiri.
Karena kamu ada saat aku butuh bantuan.
Dan masih banyak lagi...
Ahhh... aku capek nulis ribuan kata-kata. masih terlalu banyak.
Padahal pada dasarnya makna-nya sama : Aku bersyukur banget punya kamu.
tetaplah begitu, ya...
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.32 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
A letter 4 my Mom - The Sun of my world
by Malfactor Tertatih on Tuesday, August 2, 2011 at 9:03pm
Yeah, mom.. 2 minggu lagi putrimu ini mulai menapaki dunia perkuliahan.
Mulai hidup berjauhan dengan sosokmu bu..
Lalu apa ?
Beberapa bulan yang lalu mungkin perasaan ini berbeda.
Aku senang, aku sudah mahasiswa. Bahkan tak sabar untuk segera berangkat.
Mulai merengek minta diizinkan bawa motor, ato cepat-cepat dicarikan tempat kost.
Tapi bu..
Menjelang keberangkatanku ini rasanya aku justru tak ingin cepat-cepat keluar dari zona nyaman yg ibu ciptakan.
Senyummu, omelanmu, atau cara ibu menyiapkan sarapanku.
Ibu..
Bisakah aku berhenti mengkhawatirkanmu ditempat baruku nanti ?
Selama 17tahun aku begitu lekat denganmu.
Selalu bisa dipastikan begitu aku pulang aku bisa langsung menemukan ibu didapur, menyiapkan makan siangku.
Ibu..
Kita tetaplah anak dan ibunya.
Yg slalu berdebat dengan warna baju, menu makan, ato model sepatu.
Sepele sekali ya?
Tapi bu, sekarang aku tau kalau itu sangat berarti.
Apalagi yg akan kuharapkan?
Berangkat kuliah dikota yg berlainan denganmu, memantapkan jodohku, lalu menikah dan tinggal bersama suamiku ?
Berapa sisa waktu yg bisa kubaktikan?
Ibu..
Masih pantaskah aku merengek minta dipeluk diusiaku yg sekarang ini ?
Tapi aku memang ingin begitu..
Bu..
Maafkan putrimu ini..
Tak banyak yg telah kuperbuat untuk membuat ibu tersenyum bangga padaku..
Malah aku slalu membuat ibu kecewa.
Membantah perkataan ibu, melawan permintaan ibu.
Maafkan sikapku selama menjadi putri kecilmu yg manja..
Mengertikah ibu ?
Walau aku tak ingin ibu terlalu mencampuri urusanku, tetapi aku mau ibu slalu perhatian padaku.
Walau aku tak mau ibu sedih aku pergi, tapi aku mau ibu slalu merindukan aku.
Memujiku didepan adik2, atau menelponku untuk segera pulang.
Bisakah hal kekanak-kanakan itu membuat ibu makin menyayangiku ?
Ibu..
Terimakasih sudah mengantarkan putrimu ini digerbang kedewasaan.
Terimakasih sudah menyiapkan semuanya untuk keperluanku..
Terimakasih sudah tulus mengurus hidupku. Bahkan sekecil apapun kebutuhanku.
Aku tau aku masih akan pulang seminggu sekali, ato dua minggu sekali, ato sebulan sekali.
Yg jelas secepatnya aku bisa pulang, aku pasti segera pulang.
Tapi itu tak membuatku berhenti sedih jika memikirkan nantinya tak setiap hari bertemu dengan ibu..
Sampaikan pada ayah dan adik2 ya bu..
Supaya mereka menjaga ibu, untukku.
Aku memang tak pernah mengatakan apaapa padamu bu, tapi percayalah..
Aku sayang ibu. Lebih dari apa yg bisa kuungkapkan.
Doakan aku bu, doakan aku.. Restumu adalah bagian terpenting dihidupku.
Salam sayang,
Putrimu.
Rissa.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.28 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Cinta. Apa maksud Tuhan memberiku cinta?
Ehm..
Kadang aku pengen tanya, kenapa Tuhan beri aku rasa yang sedemikian ini.
Untuk menghibur diri, aku slalu bilang 'ah.. Pasti IA punya maksud tertentu. Jalani saja..'
tapi nyatanya ?
Sampai sekarang aku belum tau persis apa maksudnya.
Ibu bilang, apapun yg diberi-NYA kepada kita adalah untuk menguji kita.
Kalau bukan untuk itu, apa lagi ??
Sudah 20 bulan lebih 7 hari ketika aku menulis ini.
Aku punya cinta. Dan masih kujalani.
Tapi sampai sekarang-pun nyatanya aku masih belajar cara terbaik mencintai seseorang yg IA titipkan sekarang.
Masih belajar apa maksud Tuhan memberiku cinta yg kutujukan pada seseorang-ku sekarang.
Tapi yg perlu untuk di camkan adalah,
aku mensyukuri cinta yg IA berikan & mensyukuri seseorang yg IA titipkan untuk bersamaku.
:)
Awal aku terpaut, susah di deskripsikan. Tepatnya aku tidak tau apa & bagaimana awalnya.
Tiba-tiba saja disuatu malam ketika mati lampu aku terisak mengakui aku menyayanginya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku menyadari & percaya bahwa tidak ada yg bisa kuingkari ?
Bulan - bulan pertama cukup berat. Perbedaan kami sempat membuat aku dan seseorangku saling menyakiti bahkan sempat memisahkan kami beberapa lama.
Tapi akhirnya egoku luluh.
inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar berkorban demi orang lain ?
Lalu banyak sekali perubahan di diriku karena sikapnya. Mulai dari berhenti kecanduan hujan. Belajar untuk tidak childish. Belajar untuk bersabar. & belajar memahami seseorang-ku.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menghargai dan mengerti orang lain ?
Pernah juga aku melakukan kesalahan besar. Mendustakan cinta. & mengingkarinya. Tapi akhirnya aku kembali padanya sampai sekarang.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar mengakui kesalahan dan tidak gegabah ?
Dan atas kesalahan besarku itu, dia tetap memaafkan & memberi kesempatan memperbaikinya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku tau apa arti MAAF dan MENYESAL ?
Kemudian sikap-sikap manisnya yg mendewasakan aku. Tidak romantis, sederhana dan berarti. Sangat berarti.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku merasakan rasanya dicintai setulusnya ?
Juga ketakutanku kehilangannya, dan keinginanku membuatnya ceria.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menjaga sebaik-baiknya yg kumiliki ?
Karena aku mencintainya, aku membatasi cinta lain yg datang.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku SETIA ?
Kemudian keputusanku mengenalkan seseorang-ku kepada orang tuaku ketika awal aku dan dia melangkah bersama.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar meminta restu orangtua untuk hidupku ?
O ya, ketika seseorang-ku selalu menyuruhku belajar.
Dan aku memang jadi bersemangat karna ingin memenuhi keinginannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar berusaha sebaik yg aku bisa agar tidak mengecewakan harapan orang lain ?
Untuk semua kekurangan dan kelebihannya, aku menyukainya dan belajar memaklumi kekurangannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku menerima orang lain apa adanya dan mensyukuri yg telah IA beri padaku ?
Lalu sampai malam ini aku merasa amat sangat rindu, tapi seseorang-ku sedang tak punya banyak waktu.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menghadapi keadaan yg tak selalu seperti yg kuinginkan ?
Untuk segalanya yg ia lakukan untukku.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku mengerti bahwa cinta tidak sekedar kata CINTA. Tapi sikap. Begitukah ?
Dan 1 hal berarti : Setelah semua yg manis dan pahit yg aku lalui dengannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku dan dia belajar saling mempertahankan ? Agar aku dan dia belajar bekerjasama menyelesaikan masalah ? Agar aku dan dia belajar mencapai hasil akhir yg indah ?
Terimakasih, Tuhan.. Atas cinta & kepercayaan yg KAU beri, dan membuatku belajar banyak hal.
Dan seseorang-ku, terimakasih. Kamu luar biasa.
:)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.26 0 comments
Labels: Coretan Kosong
