Rasa sayang kadang memang menghalangi kita untuk bisa ikhlas. Gue bukannya mau bicara tentang pacar atau semacamnya. Nggak.
Tapi gue mau bicara tentang organisasi dimana gue pernah bernaung dibawahnya.
Pernah, karena sudah berakhir. Dan gue ngerasa gue butuh orang buat tau sebenar-benarnya perasaan gue selama disana.
Gue bukan mahasiswa yang menonjol, atau terlalu sering meneriakkan pergerakan, atau pengurus organisasi yang baik, gue tau.
Tapi ketika lo tanya apa gue sayang sama organisasi gue, gue akan dengan tegas menjawab : iya. Gue sayang.
Tapi sebagaimana kebiasaan gue dalam mencintai sesuatu atau seseorang, mencintai organisasipun gue sama.Mencintai itu gue lakukan secara diam-diam.
Tapi dibalik itu, gue tetep sakit kalo ada yang menghujat, tetep seneng kalo ada yang menyanjung, dan nglakuin apa aja yang bisa gue lakuin didalamnya.
Sedikit nyesek, pas keinget gimana gue cerita sama abang kalo gue juga pengen masuk ke organisasi dimana dia magang.
Sempet putus harapan ketika ngliat anak-anak magang mondar-mandir ikut menyukseskan kegiatan. Ah, siapa gue?
sempet kepikiran juga kalo ah.. udahlah. gue bergabung di skuad organisasi yang lain aja. Gue udah kehilangan kesempatan disini.
Gue mulai ikut oprect sebuah organisasi UKM, dan untungnya, nggak diterima. Gue galau. gue makin sedih.
Gue ngrasa gue bukan orang yang pantes masuk dijajaran organisator.
Tapi dasarnya gue gapeka, gue mau mencoba ikut seleksi lagi.
Sampai akhirnya, abang gue tanpa sadar membuka jalan dengan merekomendasikan gue tampil didepan anak-anak organisasi impian gue itu. Wow.
gue gapernah lupa.
dan Voila!
Pas hari seleksi datang, gue bukannya berangkat seleksi organisasi UKM tapi malah lanjut tidur berangkat seleksi ke organisasi tempat abang gue magang.
Padahal temen sekamar gue yang dulu ikutan seleksi tahap pertama dan gagal juga, hari itu mencoba kembali.
Mungkin itu jalan yang Allah kasih.
berawal dari abang gue yang ngenalin gue ke orang-orang, dan..
hasil ngomong ngomong sama pemimpin organisasi impian gue, ngasih sebuah kepercayaan diri buat ikut seleksi lagi. Dan kali ini, keterima.
What a Shock!
Sebagai mahasiswa baru, gue bangga.
Tapi kemudian berubah nyesek ketika tau, temen-temen se-genk dan abang gue justru nggak masuk.
What a Sad thing, you know.
Gue ulang,
Gue bukan mahasiswa yang menonjol, atau terlalu sering meneriakkan pergerakan, atau pengurus organisasi yang baik, gue tau.
Tapi ketika lo tanya apa gue sayang sama organisasi gue, gue akan dengan tegas menjawab : iya. Gue sayang.
Gue suka berada ditengah mereka dan bikin acara buat temen-temen sesama mahasiswa.
Gue suka rapat bareng mereka, walau gue lebih banyak diem.
hampir selalu malah.
Nah ini, bagian yang ini murni kesalahan gue.
Gue orang pasif, dan selalu begitu. Susah ngerubahnya.
Cuma paling nggak, gue tetep berusaha do my best selama disana.
Menurut gue.
Seenggaknya ketika ada acara walaupun guie bukan pemegang posisi vital, gue selalu berusaha tetep disana. stand by kalau-kalau ada yang butuh bantuan.
Sayangnya dengan sadar gue tau, kehadiran gue nggak terlalu keliatan. Yah.. banyak faktor didalam diri gue yang nyebabin itu semua.
Salah satunya perbedaan aliran berfikir, dan --lagi-- kepasifan gue. Gue terlalu takut dianggap sok, gue terlalu takut sama kritikan pedas senior, dan gue terlalu malas untuk mendekatkan diri sama siapa-siapa disana. Gue terlalu takut sama pengalaman buruk organisasi selama SMA.
Tapi gue nggak bisa mangkir dari banyak hal yang udah gue pelajari dari sana. Gimana-pun, banyak hal yang udah jadi bekal buat gue ngebantu menggelindingkan sebuah organisasi yang sedang berkembang.
Gue sebut aja : Jurnalistik PGSD.
Dan dari Jurnalistik juga gue menyadari kalo berorganisasi nggak cuma soal bikin acara dan pake jas almamater.
tapi juga masalah gimana caranya biar organisasi itu bisa jalan dengan segala masalah yang ada. ya administrasi, ya dana, ya nama besar. ya kelangsungan hidup. ya komitmen. ya pengorbanan. ya kritik, ya saran, ya tekanan, dan.. rasa kekeluargaan.
Gimana caranya biar bisa survive ketika organisasi seperjuangan satu-persatu mulai collaps karena berbagai keterbatasan.
Dari situ juga gue sadar, banyak yang nggak gue tau dari organisasi besar yang gue pake bernaung. Dan gue menyalahkan diri gue sendiri atas ketidaktauan itu. Gue kurang terbuka.
Apalagi ketika organisasi gue diguncang banyak masalah di akhir taun kepengurusan, gue praktis nggak melakukan apa-apa. Padahal gue seharusnya bisa dan mau melakukan yang lebih dari sekedar diam.
Dan satu hal yang bikin gue sadar adalah kesalahan gue yang terbesar : Gue nggak fokus disalah satunya. Selama gue di Jurnalistik, gue terlampau sering meninggalkannya buat hal-hal lain. Dan selama di organisasi yang ini, hati gue yang separuh lagi nggak bisa berhenti memikirkan Jurnalistik. Dan gue mulai kecewa di organisasi yang ini di satu sisi. Hati gue mulai sering perang dengan masing-masing sisinya. Sampai gue mengecewakan dua-duanya.
Gue bertekad memperbaiki.
Dan sekarang, masa gue habis disana.
Gue nggak punya kesempatan memperbaiki. Gue gagal membuat organisasi ini percaya kalo gue sayang sama dia. Katanya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang juga memikirkan generasi yang akan meneruskannya.
tapi gue pikir itu bukan cuma berlaku buat pemimpin. tapi seluruh orang dalam organisasi ini. Setiap orang disini memikirkan gimana caranya generasi penerus bisa menjalankan organisasi ini dengan lebih baik.
Begitu pula gue.
Kecewa sih iya, tapi sebagaimana pernyataan mereka kalau ada adik-adik penerus yang punya kesempatan berkembang, gue berusaha sadar, bahwa gue nggak maksimal dan organisasi nggak bisa nunggu gue berubah.
ada potensi-potensi lain yang harus dapet kesempatan berkembang.
Seiring itu, keberadaan gue di Jurnalistik terasa makin membahagiakan buat gue pribadi, karena orang-orang didalamnya membuat gue jadi siapa gue yang sebenernya.
Dan seiring tanggung jawab gue disana yang makin besar, Gue harus makin belajar dari pengalaman setahun ini.
Gue minta maaf sama semua pihak, atas semua keterbatasan gue.
Dan pada akhirnya gue berpesan sama siapapun yang ngebaca ini, kalo lo sedang berada dalam suatu organisasi, ya berkembanglah. berkembanglah.
Bukan siapa organisasinya, tapi siapa kamu diorganisasi. :)
Sabtu, 29 Desember 2012
Gue Gagal Meyakinkan Dia kalau Gue Sayang Dia
Posted by Kharissa Widya Kresna at 20.46 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Jumat, 28 Desember 2012
Melukai
Melukai adalah hal yang paling sulit dihindari.
Melukai terlalu absurd untuk didefinisikan oleh pemahaman yang berbeda arti.
Melukai tak pernah punya ukuran yang sama untuk sudut pandang yang tak searah.
Melukai... adalah hal yang tak bisa kita tolak.
Kita pernah melukai. dan terlukai.
Terlukai adalah suatu kata kerja yang sebagai objek yang terkena dampak dari seseorang yang 'melukai'.
entah sengaja. entah tidak.
Kita tidak pernah bisa menyalahkan orang lain karena melukai kita.
Apalagi dari tindakannya yang sebenarnya tidak melanggar apa-apa.
Bingung?
Oke. begini..
katakanlah kamu mencintai orang lain dan orang itu mencintai orang lain lagi.
Tanpa sadar, sebenarnya orang itu sedang melukaimu karena dia mencintai orang selainmu.
Tapi apakah itu kesalahannya?
Jelas tidak.
Karena dia bebas mencintai orang lain dan--sialnya--kita terikat perasaan kita sendiri yang mencintainya.
Lalu siapa yang melukai sebenarnya?
Dia, atau diri kita sendiri?
Melukai adalah ketika kita tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Melukai adalah ketika kita tak mau melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Bedanya adalah pada pernyataan pertama kita mungkin sekali tidak berdosa.
sedangkan pada pernyataan kedua, kita jelas dipersalahkan.
Melukai adalah ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Melukai tak pernah punya ukuran yang sama untuk sudut pandang yang tak searah.
Contohnya adalah SALAH PAHAM.
jelas sekali kalau salah paham adalah perbedaan sudut pandang.
perbedaan pemahaman.
yang berujung kekecewaan pada salah satu atau kedua pihak.
dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya kecewa.
Ya.. mau dikatakan apa lagi?
namanya saja salah pengertian.
satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjelaskan. Itu-pun tak mudah. Iya kalau diterima.
kalau tidak?
Kita berusaha keras menjelaskan dan dia tidak mempercayainya. Dan ini melukai diri kita. Dan melukainya (mungkin).
dan kita juga tidak bisa menyalahkan dia karena melukai kita dengan tidak percaya pada penjelasan kita.
See? Melukai tak pernah bisa dihindari.
Melukai adalah ketika kita tidak mau melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Kalau yang ini jelas contohnya.
KETIDAKPEDULIAN.
Kita akan melukai seseorang kalau kita tidak peduli dengan apa yang sudah dia lakukan atau dia berikan kepada kita.
Kita yang salah kalau ini.
Melukai tidak pernah bisa dihindari.
Lainnya? Silahkan pikirkan sendiri.
Selamat Melukai.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.11 0 comments
Labels: Belajar Hidup
Suatu Keputusan : Berpisah
Mungkin ini pertamakalinya aku kembali tersadar, setelah sayu matamu puas kupandangi dalam lembaran-lembaran menit yang tersisa.
Kau bukan orang lain yang kehadirannya tak pernah kusentuh, tapi asing selalu merambati tiap baris kata yang kita rangkai tuk mencairkan suasana.
'Kita harus putuskan.'
Katamu sambil berjalan mengitari meja.
Dan aku hanya tersenyum memandangimu.
'Pasti. Kita akan membuat suatu keputusan.'
Pandangan matamu semakin beku, menatap lurus jalanan yang diguyur riintikan hujan dari balik kaca jendela.
Tanganmu menyapu tepian meja yang berdebu, membuat butiran-butiran halus partikelnya berhamburan keudara.
Seiring detak waktu yang terlewat begitu saja, sepi merambat naik dari relung hatiku.
Kita pernah bersama, dan perpisahan adalah hal yang nyata. terlalu nyata bahkan ketika kusebut semuanya hanya mimpi.
'Jadi ini keputusannya?'
sejurus kemudian kusadari kalimat tanyaku menguap tanpa ada yang menyadarinya.
tidak juga kau, yang sibuk menghilangkan debur gelisah dengan memainkan kedua jemarimu.
'Maaf..'
suara lirihmu terdengar parau.
dan lagi, aku hanya bisa mengembangkan senyum. Tak tega melihatmu dikuasai kegelisahan.
'Baiklah. kau yang membuat keputusan dan aku yang akan melaksanakannya. Selama ini-pun begitu kan?'
'Maaf. aku.. tak tau harus menjelaskan darimana.'
'Tak usah kau rangkai kata indah untuk menggambarkan suatu perpisahan, sayang. Karena tak pernah ada yang indah dalam sebuah perpisahan. Hanya saja jika kau katakan sejujurnya bahwa dalam jarak ini tak ada lagi ruang untukku, sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Aku menyadari segala keterbatasanku. Dan kau membutuhkan yang lebih..'
Kau baru akan membuka suara, dan aku mengambil alih melodi sebelum kau menyanyikannya.
'Aku tak pernah menyalahkan jarak, atau dirimu, atau diriku sendiri atas mengapa kau pilih keputusanmu yang ini. Ini hanya soal perbedaan kebutuhan kita yang tak biisa dijembatani. Aku mengerti. Berhentilah meminta maaf. Jaga dirimu, jaga seluruk jarak yang pernah kuretas dalam rindu untukmu..'
Kau masih tertunduk, dan aku tak henti memandangi setiap inci lekuk wajahmu.
Mungkin keteduhan tak pernah kudapatkan darimu, atau mungkin kesempurnaan tak pernah kau dapatkan dariku, hingga akhirnya semua itu membawa kita dalam suatu keputusan : Berpisah.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.08 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
