Minggu, 21 April 2013

Orang-orang itu (terlalu) Baik


Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka mau kerepotan memetakan hidup kita.
Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka mau bersusah payah menentukan yang baik untuk kita.
Hanya saja kadang juga, orang-orang itu terlalu egois untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak menyetujuinya.

Orang-orang itu baik. Mereka memandang bahwa semua ini tidak baik untuk kita lakukan.
Hanya saja terkadang orang-orang itu lupa pula, bahwa apa yang mereka lihat tidak pernah selalu sama dengan apa yang sedang berlangsung sebenarnya.

Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka perhatian dengan mengajukan banyak pertanyaan atas diri kita.
Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka dengan mudahnya memberikan jawaban untuk semua teka-teki mereka tentang kita,
Hanya saja kadang juga, orang-orang itu terlalu sibuk untuk menyadari bahwa jawaban yang mereka sediakan adalah jawaban yang ingin mereka dengar sendiri, dan bukan jawaban yang sebenarnya sesuai realita kita.

Orang-orang itu terlalu baik. Mereka bahkan mau dengan senang hati memikirkan prasangka terburuk tentang diri kita.
Orang-orang itu terlalu baik. Mereka bahkan mau dengan senang hati menanyakan pertanyaan dan mengemukakan pernyataan terkonyol tentang diri kita.
Hanya saja orang-orang itu seringkali tidak mau menyadari, bahwa pertanyaan dan pernyataan mereka menjadi suatu bentuk tekanan tersendiri untuk kita.

Orang-orang itu terlalu baik. Mereka mau menghakimi semua kesalahan kita tanpa diminta.
Orang-orang itu terlalu baik. Mereka mau memuji dan menghina kita bahkan ketika mereka tidak ada hubungannya dengan itu semua.
Hanya saja mereka terlalu sering tidak ingat untuk meluangkan waktu mendengar alasannya.

Ah, mungkin kita memang tak bisa hidup dengan baik diantara orang-orang yang terlalu baik seperti mereka.

08032013 when they tell me : NO. at the same time I realize that I love You. #14

Jalan Terus


Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memutuskan untuk melangkah satu atau dua langkah di depanku, maka saat itu pula kamu memutuskan meninggalkan aku.

Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau melakukannya--berbalik untuk kembali menggandengku--aku tak bisa berjanji akan mau.

Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.

Berjalanlah terus, karena sejatinya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tetap berdiam diri disampingku.
Memeluk untuk melukaimu, atau melukaimu untuk--suatu saat nanti--memelukmu.
Berjalanlah terus, karena sejatinya meski aku tak bisa secara langsung menerimanya, itu jauh lebih baik pula adanya.

Jalan terus, dan jangan biarkan hasratmu untuk meninggalkanku tergerus.
Karena memang aku akan berusaha menahan demi hatiku, tapi kita memang tak bisa terus-menerus mengedepankan masalah hati.
Jalan terus, dan jangan bergeming hanya karena aku tetap disini.
Karena memang aku akan terus berusaha disini menunggumu, tapi kamu memang tak bisa terus-menerus menemaniku.

Maka..

Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memilih untuk berhenti, maka aku takkan mengizinkanmu melanjutkan lagi.
Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau memilih untuk tanpaku, maka aku takkan mengizinkanmu membawaku kembali.

Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.

Aku butuh kamu untuk tertawa.


06032013

Menelan Rasa


Aku merasakan angin berhembus menerpa seluruh tubuhku, dan detik itu juga kurasakan setiap sel-ku meluruh bersamanya.
Bagai ribuan daun kering yang terbang tertiup Sang Sepoi, mengantarkan bayangmu kembali menjadi raja.
Sama seperti ketika kau menatapku seolah aku permaisyuri yang tercipta untuk menemanimu.
Lalu kau dengan mudah dapat gagah duduk bertakhta dalam singasana : Memegang tampu kekuasaan atas seluruh kerajaan kataku.

Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya tersenyum dan memandang.
Namun ketika tatapanmu membidik setiap angle yang membentang dihadapmu, aku seolah menemukan kacamata baru. Segalanya sewarna syahdu.
Membelai dan mengembangkan hatiku, sehingga seluruh alveolusnya menyesap setiap unsur oksigen dan melempar jauh udara sisanya.
Aku seolah dialiri matriks kehidupan yang baru. Aku seolah dihidupkan kembali dari kematianku.

Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya memandang dan  berlaku apa adanya dirimu.
Namun ketika kau bergerak dalam sudut ruang mataku, aku seolah menemukan sinar energi  baru pengganti matahari. Segalanya seolah berseri.
Menarik urat pipiku dan melengkungkan garis ceria yang meluncurkan namamu dengan fasih, dan dengan doa penuh kasih.
Aku seolah berada dalam panel surya yang mempu menyimpan gemerlap nirwana untuk bangkit dan bersinar selamanya.

Kau Luar biasa. Serupa dahsyat kau cipta kembali, namun dalam atmosfir nelangsa  yang tak ku kira sebelumnya.
Kau memutuskan berhenti berevolusi mengelilingi bumiku.
Kau bilang kau lelah menjadi surya dalam terangku, atau menjelma bulan dalam gelapku.
Kau bilang kau lelah meniup angin dalam gerahku, atau meretas hangat dalam beku-ku.
Kau bilang aku labirin dengan banyak jalan buntu.
Kau bilang aku tebing dengan banyak batuan curam yang menjatuhkanmu.

Seketika badai menerpa habis setiap selku.
Kemudian dengan kejam angin menerbangkan setiap serpihanku menuju tempat yang aku sendiri tidak tahu.
Aku hanya tak bergeming, aku masih disini menunggumu memungut setiap bagianku yang berterbangan dan meletakkannya lagi dalam pelukmu. Namun ini sudah lebih dari empat-belas purnama, dimana kau berada? Tahukah kau baru saja Sang Pipit mengabarkan padaku bahwa kau telah berdua?

Sayangku, kini mereka mengatakan aku telah redup dan tak punya cahaya kehidupan. Kenapa kau meninggalkanku terpanggang kenangan?

03032013

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir