Minggu, 21 April 2013

Jalan Terus


Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memutuskan untuk melangkah satu atau dua langkah di depanku, maka saat itu pula kamu memutuskan meninggalkan aku.

Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau melakukannya--berbalik untuk kembali menggandengku--aku tak bisa berjanji akan mau.

Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.

Berjalanlah terus, karena sejatinya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tetap berdiam diri disampingku.
Memeluk untuk melukaimu, atau melukaimu untuk--suatu saat nanti--memelukmu.
Berjalanlah terus, karena sejatinya meski aku tak bisa secara langsung menerimanya, itu jauh lebih baik pula adanya.

Jalan terus, dan jangan biarkan hasratmu untuk meninggalkanku tergerus.
Karena memang aku akan berusaha menahan demi hatiku, tapi kita memang tak bisa terus-menerus mengedepankan masalah hati.
Jalan terus, dan jangan bergeming hanya karena aku tetap disini.
Karena memang aku akan terus berusaha disini menunggumu, tapi kamu memang tak bisa terus-menerus menemaniku.

Maka..

Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memilih untuk berhenti, maka aku takkan mengizinkanmu melanjutkan lagi.
Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau memilih untuk tanpaku, maka aku takkan mengizinkanmu membawaku kembali.

Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.

Aku butuh kamu untuk tertawa.


06032013

Menelan Rasa


Aku merasakan angin berhembus menerpa seluruh tubuhku, dan detik itu juga kurasakan setiap sel-ku meluruh bersamanya.
Bagai ribuan daun kering yang terbang tertiup Sang Sepoi, mengantarkan bayangmu kembali menjadi raja.
Sama seperti ketika kau menatapku seolah aku permaisyuri yang tercipta untuk menemanimu.
Lalu kau dengan mudah dapat gagah duduk bertakhta dalam singasana : Memegang tampu kekuasaan atas seluruh kerajaan kataku.

Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya tersenyum dan memandang.
Namun ketika tatapanmu membidik setiap angle yang membentang dihadapmu, aku seolah menemukan kacamata baru. Segalanya sewarna syahdu.
Membelai dan mengembangkan hatiku, sehingga seluruh alveolusnya menyesap setiap unsur oksigen dan melempar jauh udara sisanya.
Aku seolah dialiri matriks kehidupan yang baru. Aku seolah dihidupkan kembali dari kematianku.

Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya memandang dan  berlaku apa adanya dirimu.
Namun ketika kau bergerak dalam sudut ruang mataku, aku seolah menemukan sinar energi  baru pengganti matahari. Segalanya seolah berseri.
Menarik urat pipiku dan melengkungkan garis ceria yang meluncurkan namamu dengan fasih, dan dengan doa penuh kasih.
Aku seolah berada dalam panel surya yang mempu menyimpan gemerlap nirwana untuk bangkit dan bersinar selamanya.

Kau Luar biasa. Serupa dahsyat kau cipta kembali, namun dalam atmosfir nelangsa  yang tak ku kira sebelumnya.
Kau memutuskan berhenti berevolusi mengelilingi bumiku.
Kau bilang kau lelah menjadi surya dalam terangku, atau menjelma bulan dalam gelapku.
Kau bilang kau lelah meniup angin dalam gerahku, atau meretas hangat dalam beku-ku.
Kau bilang aku labirin dengan banyak jalan buntu.
Kau bilang aku tebing dengan banyak batuan curam yang menjatuhkanmu.

Seketika badai menerpa habis setiap selku.
Kemudian dengan kejam angin menerbangkan setiap serpihanku menuju tempat yang aku sendiri tidak tahu.
Aku hanya tak bergeming, aku masih disini menunggumu memungut setiap bagianku yang berterbangan dan meletakkannya lagi dalam pelukmu. Namun ini sudah lebih dari empat-belas purnama, dimana kau berada? Tahukah kau baru saja Sang Pipit mengabarkan padaku bahwa kau telah berdua?

Sayangku, kini mereka mengatakan aku telah redup dan tak punya cahaya kehidupan. Kenapa kau meninggalkanku terpanggang kenangan?

03032013

Jumat, 01 Maret 2013

Suatu Hari, Saat..


Suatu hari,
ketika aku menyadari bahwa aku sudah terlalu sibuk memastikan bahwa akan ada yang menopangmu ketika kau jatuh..
Suatu hari,
ketika aku menyadari bahwa aku sudah terlalu sibuk memastikan bahwa akan ada yang melengkungkan senyummu ketika kau terluka..
Saat itu pula aku tersadar,
bahwa ternyata ketika aku melihatmu ditopang olehnya atau dibuat tersenyum olehnya, akulah yang jatuh dan terluka.
Dan aku,
lupa untuk memastikan bahwa akan ada yang akan menopangku atau melengkungkan kembali senyumku.

Foto : DevianArt

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir