Potongan-potongan puzzle ini berserakan, lihatlah..
bolehkah aku menyusunnya menjadi kesatuan kita yang utuh?
maukah kau menjadi salah satu pasangannya dan menggenapi potonganku?
Mungkin saja ada gambar peta hidup bersama diatasnya, jika kita berhasil menyusunnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku mengurutkannya?
Potongan-potongan puzzle ini berserakan, tataplah..
bolehkah aku mengumpulkan kepingannya agar tidak tercecer begitu saja?
atau maukah kau menghubungkan polanya yang membuatnya lengkap seperti seharusnya?
Mungkin saja ada gambar masa depan bersama diatasnya, jika kita berhasil menurutkannnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku menatanya?
Kita mungkin serupa tiap keping puzzle itu, pikirkanlah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan menyusunnya dengan segala cara yang dapat terkerah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan saling menemukan dengan susah payah.
Tapi bukankah kita memang diciptakan sebagai potongan yang berpasangan?
Lalu mengapa terasa sulit sekali bagi kita untuk saling melengkapi?
Mungkinkah Tuhan salah meletakkan kita berdua dalam satu kotak susunan?
Ataukah Tuhan memang mempertemukan kita sebagai potongan yang salah dalam pola gambar ini?
Tetapi mana mungkin Tuhan melakukan kesalahan?
Mana mungkin Tuhan teledor meletakkan potongan kita?
Atau mungkinkah jika aku...
Bukan potonganmu?
Rabu, 06 Februari 2013
Potongan
Posted by Kharissa Widya Kresna at 19.13 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Selasa, 05 Februari 2013
The Shadow Spot
Malam ini rembulan ramah sekali.
Tirai cahayanya menerpa sosok kita yang duduk berdekatan, hingga tercipta siluet gelap tubuh kita.
Bayangan. Bayangan kita.
Aku memandangnya takjub.
Bagaimana bisa kita mengingkari ini? bahwa bayangan kita-pun telah diciptakan secara berpasangan,
dan mengikuti seluruh gerak, degup rasa, dan gejolak yang kita rasakan
Ah, memikirkannya saja sudah membuatku mabuk kepayang.
Seolah memang petang memantulkan senyum kita yang sedang mengembang..
Tiba-tiba kudengar melodi panggilan masuk ke ponselmu,
menampilkan sebuah nama yang selalu menjadi sumber ketakutanku.
Matamu memancarkan arus yang tak biasa, tak pernah sama dengan caramu memandangku.
Kemudian aku tau,
Bayangan yang sekarang sedang duduk bersama bayanganmu itu bukan aku.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.56 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Mencoba Lari, dan Kembali.
Aku baru sampai.
Dan kudapati tempat ini begitu sepi.
Padahal jika kami berkumpul, canda tawa tak pernah tak terdengar.
Semuanya pergi. Sibuk dengan dinamika kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Sama sepertimu.
Kau mulai lengang meramaikan dering ponselku.
Kau mulai beringsut sedikit demi sedikit,
menjauh sepetak demi sepetak,
Tanpa aku mengerti kenapa.
Aku baru sampai.
Dan keheningan tempat ini menggiring setiap adegan dari setiap episode yang telah sukses kita perankan.
Satu-persatu muncul kembali,
memproyeksikan ribuan tawa yang kita lalui bersama.
Lalu semuanya menggelap.
Pita kasetnya berhenti mempresentatifkan episode selanjutnya.
Seolah film kita memang selesai begitu saja.
Aku baru sampai.
Dan setiap tempat di sekitarku menceritakan semua hal yang kita lakukan disana.
Aku baru sampai.
Dan setiap jalan yang kulalui menuju kesini membisikkan segala cara yang kita lakukan untuk membunuh waktu perjalanan ketika bersama.
Kursi tempat peraduan,
Angin dan pemandangan,
Lagu yang kita dengarkan,
Aku baru sampai.
Dan seiring aku meletakkan barang bawaanku di tempat ini, aku sadar.
Perasaan seperti ini takkan bisa kuingkari, sejauh apapun aku pergi.
Karena dia meninggali setiap celah hati, dan bukan tertinggal di suatu tempat yang tak bisa kusentuh lagi.
Dia tinggal disana, dan akan terus ada kemanapun kita berada.
Apa yang bisa kulakukan untuk melipat jarak ini?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.54 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Tulisan Bebas



