Jumat, 28 Desember 2012

Pernahkah Kau Berfikir?


Pernahkah kamu berfikir bagaimana dia mondar-mandir sambil memegang telepon selulernya,
dan berharap kamu membalas atau mengangkat puluhan panggilan ke ponselmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana dia ingin bercerita semua yang dialaminya tetapi kamu bertindak seolah itu bukan masalah dan malah marah-marah?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia mengundangmu kerumah dan kau tak memberikan kepastian untuk datang?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia berusaha menjelaskan sesuatu dan kamu tak mau mendengarkannya sama sekali?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia disuatu tempat selalu memikirkanmu dan kamu malah menuduhnya melupakanmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia  berkata jujur dan kamu tak mau menyisakan sedikit kelapangan hatimu untuk percaya?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menahan rindu, dan kamu malah membalas dingin ketika dia menghubungimu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menunjukkan siapa dirinya tetapi kamu malah memperlakukanya seolah dia dan dirinya adalah suatu kesalahan?

Dan pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika segala usahanya membuatmu bahagia dan telah kau tolak begitu saja hanya karena tak sesuai menurut sudut pandangmu itu menjadikannya JERA?

Dan aku lelah membahagiakanmu dengan segala dayaku. 
Dan aku lelah melihatmu menganggap semua itu keliru.
Dan aku lelah..
Maka ketika kau merasa aku tak lagi bisa mengerti dan tak layak kau cintai,
Maka ketika kau merasa aku tak lagi menjaga hati dan kau ingin pergi, 
pergi saja.
TANPA HARUS MENGELUARKAN KATA-KATA YANG MENYIKSA.

Paragraf -- Bagian Kecil dari Rumput di Padang Ilalang


Saat ini mendung, dan mendadak aromanya menggeliatkan kebencianku pada hujan.
Aku benci.
Benci ketika hujan terselubung dengan kesedihan.
Benci ketika hujan terselimuti dengan rindu yang tak tersampaikan.
Aku menatap keluar jendela yang tembus ke pemandangan diluar sana.
dari alunan radio didalam bus ini sebuah kalimat menggema

Semakin dalam seseorang mencintai yang menjadi miliknya,
Semakin sulit baginya berkorban untuk orang lain.


Memang iya.
Dan hujan menjadi satu-satunya yang bersaksi akan itu.

Saat itu mendung, dan hujan mulai menjatuhkan titik demi titik ke permukaan bumi
Kau disana, berdiri dan melambaikan tangan dari kaca jendela bus yang aku tumpangi..
Aku menatap nanar membisikkan kata yang tak pernah kau dengar,
'Hujan tak pernah membawa kesedihan, atau identik dengan kesepian..'
Sejurus kemudian aku melihat kita mengarungi jalanan dengan arah berlawanan..

Dalam derap suara kereta aku berfikir dengan isak tertahan.
Tak apa. Tak apa.
Perpisahan hanyalah bagian kecil dari sandiwara yang aku jalankan.
Dan monolog kesepian hanya basa-basiku dengan Tuhan.
Dia akan baik-baik saja. Berdiri tegak dengan seseorang disampingnya.
yang diharapkannya.
Yang mampu bertahan dengan seluruh lika-liku kehidupannya.
Bukan aku...

Aku menghela nafas.
Siluet kenangan seakan menambah gersang padang ini, padahal mendung masih setia mengayomi.
Sebegitu keringkah tanah ini?
Hingga hujan-pun tak mampu membasahinya lagi?
atau memang satu-satunya yang mampu membasahinya hanyalah lembab derai tawanya?
Tawanya.
yang kutinggalkan diujung pelangi ketika senja berupa semburat jingga?

Kaca jendela bus ini memburam, rintik hujan menguap dalam partikel-pertikelnya dan mengaburkan pandanganku memalui celah jendela ini.
Atau memang hujan selalu menguap?
apakah titik air selalu mengaburkan pandangan?
Layaknya titik air mata yang membias disudut beku tatapanku..
Bayanganmu mengecil, hingga hilang ditelan jarak.
tersamar tirai rintikan hujan yang halus..
yang menyejukkan namun menusuk kalbu.

Hujan adalah nyanyian kalbu,
Bagi seseorang yang hatinya sedang merindu

ya. Rindu.
Tapi bagaimana bisa hujan membawa rindu dari jarak sekian meter dan sekian detik yang baru kulalui?
Memikirkan jarak dan tahapan hidup yang akan kulalui bermil-mil jauhnya darimu, membuatku rindu.
Tidak. aku tidak merindukanmu.
Aku merindukan kita.
Bagaimana bisa kita memilih berpisah atas nama cinta?
Bukankah cinta harusnya selalu menyatukan?

Ah, tidak.
Setiap kilasan kenangan ini tidak boleh datang dengan gampangnya dan merenggut jiwa.
Tak bisa.
Tak akan kubiarkan semua tentang kita merenggut rona kebahagiaan di hidupku yang selanjutnya.
Bagaimana bisa?
padahal kau mungkin sudah bahagia dan lupa bagaimana caranya kita tertawa bersama.
Mendung ini tak pernah berarti apa-apa untukmu kan?
Maka aku-pun akan bangkit juga.
Bus ini membawaku pergi.
Meninggalkan serpihan sisa-sisa cerita kita yang merobek hati.
Maafkan aku yang pergi.
karena kutau kau takkan cukup mampu untuk mengakhiri.

Untuk kesekian kalinya, aku menyesap hal yang tak pernah kau mengerti.
Menyerap segala rasa ketika ribuan pertanyaan kau lontarkan padaku.

Kau terus menerus mengejarku dengan tuduhan bahagia tanpamu, dan berulang kali aku hanya menjawab 'oke. Kalau itu yang ada di pikiranmu.'
Kau mungkin membenciku karena bersikap begitu, tapi aku terlanjur membatu untuk membicarakannya kembali.
Bahkan untuk sekedar menjelaskan apa yang kurasakan ketika kau terus membicarakan hal yang sama.

Mungkin memang aku yang terlalu tak ingin peduli.
Mungkin juga benteng yang kubangun sudah terlalu kuat untuk sekedar kau hancurkan dengan keraguanmu padaku.
Kenyataannya aku memang sudah membiarkanmu terus bertanya-tanya. Dan aku tak mau menjawabnya.
Aku ingin ku yang berhenti bertanya dan  mulai kembali percaya.
Kemudian akan kubiarkan segalanya seperti semula.

Dengarkan aku.
Aku mengacuhkanmu dan bukan berarti tiap-tiap detik kulewati tanpa memikirkanmu. Aku hanya tak ingin terombang-ambing dalam ketidak-pastianmu.
Kadang kau datang dengan sejuta pertanda kau masih mencintaiku,
Detik selanjutnya kau meninggalkanku ketika aku mulai menyukaimu.
Berulang begitu. Aku lelah.
Maka sekarang maafkan aku jika aku begini.
Bukan karena cinta telah pergi, Tapi karena hati sudah enggan terluka lagi.


Maka, kini kuucapkan kembali.
Cinta tak pernah pergi.
Hanya hati enggan terluka lagi.
Dan seiring aku mengucapkan janji,
Mendung mulai berganti dan hujan turun membasahi bumi..

Hujan ini mungkin jelmaanmu.
Ronta setiap kalimat-kalimat kebencianmu padaku.
tapi hujan tak pernah berarti kesedihan, dan tak pernah identik dengan rindu yang tak tersampaikan.
Maka, dalam setiap penjelmaanmu tak akan aku iringi dengan airmata yang menyesalimu.
Hujan ini cintaku, cintamu, cinta kita yang tak bisa kita nikmati kapanpun kita membutuhkannya untuk memadamkan gersang di padang, tapi kita akan selalu menemuinya ketika kita membutuhkannya untuk menyelamatkan padang dari kematian..

Berbahagialah, Ilalang.
Dan bahagiaku-pun akan datang..


Sepucuk Surat untuk Mentari


Sudah tengah malam.
Sudah tengah malam ketika detik demi detik kulalui dengan mata terjaga.
Untuk terlelap pun tak bisa.
Berharap keesokan paginya segala cerita mampu menawar seluruh luka.

Aku tak menulis surat ini dengan perasaan kecewa.
Tidak.
Aku justru merasa bersalah karena aku menulis ini tanpa peduli sedikitpun,
apakah isinya akan menyakitimu yang membacanya.
Aku hanya rembulan malam. Durjana dalam kelam yang akan mati ketika kau terbit.
maka sedikit waktu yang kupunya, aku ingin benar-benar memilikinya untukku sendiri.
dan mengenangmu adalah hal yang kuhindari.
Apa artinya?
yang kita bicarakan hanyalah omong kosong dan janji-janji.
Padahal kita sama-sama tau, hidup kita bukan sesuatu yang pasti.
Aku bosan dengan abu-abu.
kau tau.
Aku hidup dalam langit malam yang sama kelabunya.
Dan denganmu, haruskah aku menikmati warna yang sama?
untuk jangka waktu yang tak kita duga--mungkin selamanya?

aku hanya rembulan malam, dan rembulan takkan pernah bertemu dengan mentari dalam satu hitungan waktu.
Duniaku memisahkan kita.
Duniaku yang membatasiku agar tak bisa melihatmu, dan begitu pula sebaliknya.
Kau tak suka terlibat kedalam duniaku.
Aku tak cukup peduli.
Kau tak mengizinkanku masuk kedalam duniamu.
Aku tak cukup peduli.
Walau sebenarnya memendam hasrat bersamamu sama dengan menusuk jantungmu sendiri.
Aku tak cukup peduli.

Aku mencintaimu, mentari.
Sebesar rintik hujan mendamba pelangi.
namun aku terlampau menyadari, kau dan aku tak pernah saling mengerti.
atau yang lebih naas lagi, kau dan aku sama-sama berhenti saling mengerti.
Dan hidup bersama, hanya sebatas mimpi tanpa harapan menjadi nyata.

Aku tertawa.
Semoga Tuhan menawarkan cara agar kita bersama.
Akankah bisa?


 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir