Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terlampaui dengan cepat dan tanpa kenangan indah. Bukannya disambut penuh kehangatan.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terbangun dengan perasaan yang tak diinginkan. seolah kau terlahir tanpa di harapkan..
Resna menghela nafas dan membuka matanya dengan berat. Malam yang tidak menyenangkan. dan 1 lagi hari buruk yang harus dilalui. pikirnya.
'Resna.. jam berapa ini sayang? nggak libur kan?' teriakan ibu membangunkannya mulai terdengar seantero rumah.
'Iya bu.. Resna mau baru mau mandi..'
setengah jam kemudian Resna sudah bersiap dimuka pintu dengan muka ragu
'Bu, serius Resna harus sekolah hari ini?'
'Lho? memang kenapa? Resna masih sakit ya?'
'Resna malu. teman-teman dan.. Lian.. belum tau Resna pakai kursi roda..'
'Sayang, anak baik tidak akan tertolak. Resna pakai kursi roda kan cuma sementara..'
Resna tersenyum.
'Resna berangkat bu.. Assalamualaikum..' pamitnya
'walaikumsalam, sayang..'
Disekolah, Resna merasa setiap meter yang dilaluinya menuju ke kelas terasa seperti berjalan di bara api.
Teman-temannya memandang dengan tatapan yang tidak dia mengerti, seolah Resna adalah seorang tahanan penjara yang diarak keliling kota.
Resna merasakan mukanya memanas.. matanya mulai terasa perih. tapi hal itu ditahannya hingga sampai ke kelas.
ia melihat Lian sedang bercanda dengan teman-temannya ketika dia masuk.
Lian tercengang.
'Res.. ehm.. sayang.. kamu...' katanya terbata
'Apa?' Jawab Resna dingin. Lian salah tingkah.
'Kamu.. kenapa nggak bilang kalau sakit?'
'Apa pedulimu?'
'Kenapa kamu bilang begitu, sayang?'
'Kau tak cukup pandai berpura-pura dan tak usah berpura-pura, Li..' Ucap Resna sambil menjalankan kursi rodanya ke bangkunya. Lian ingin mengejarnya tetapi Pak Didik sudah memasuki kelas dan langung memulai pelajaran.
Lian mencuri kesempatan untuk melirik kearah Resna. tapi gadis itu tidak melihat kearahnya sedikitpun.
Lian menghela nafas dengan sedih.
'Res, tunggu. aku mau bicara.' teriak Lian sambil menghentikan laju kursi roda Resna.
'Ada apa?'
'Res.. kejadian seminggu yang lalu itu.. sungguh bukan seperti yang kamu pikir. Aku tidak tau kenapa kamu bisa berada disana....'
'kenapa?' potong Resna 'kamu kaget aku ada disitu dang melihat kamu sama adik kelasmu yang cantik itu? Kamu kaget karena aku tau kalau kamu nggak lebih baik dari mayat hidup? Kamu cuma punya raga tapi nggak punya hati, Li..' cercanya kemudian
'Res... bukan gitu. saat itu aku cuma sedang dimintai tolong untuk nganterin dia pulang karna dia sakit. serius..'
'Cukup Li. kamu lebih memilih ngenterin dia padahal aku nungguin kamu untuk ngeliat pentasku kan? yasudah. habiskan waktumu sama dia dan nggak usah menjelaskan kenapa kamu nggak datang. cukup. aku sudah bahagia karena kamu nggak datang. bahagia sekali sampai aku nggak tau gimana memaafkan kamu. sekarang kamu lihat. kamu nggak akan bisa lagi ngeliat aku menari..' Tiba-tiba Resna serak. dia sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Lian memejamkan mata dengan pedih. kemudian berlutut memeluk Resna. Resna sesenggukan menahan tangis.
'Lepas Li.. kumohon..'
Lian menatap Resna tak mengerti.
'sudah cukup. sudah ada yang berubah tanpa kita sadari.. Pelukmu... kata-katamu.. entah kenapa aku merasa semua itu sudah bukan milikku lagi. Duniaku sudah runtuh.. dan aku--semoga kau mengerti-- sudah tidak ingin terlibat apapun denganmu..' Ucap Resna
'Sayang... kamu..' Lian terbata-bata dan menatap Rena tak percaya
'Aku hanya seorang gadis yang tersungkur di kursi roda. takkan bisa menemanimu berlatih lari lagi. takkan bisa menemanimu berenang lagi. aku tidak ingin tersiksa dengan kenyataan seperti itu. Lagipula kamu sudah lebih baik dengan adik kelasmu itu. terbukti karena kamu nggak mencariku bahkan ketika aku menghilang. kamu nggak sedikitpun ingin tau apa yang terjadi. dan kamu juga tak perlu berpura-pura peduli lagi.. Aku bukan orang yang tepat. Aku dan kamu bukan pasangan yang tepat. saat-saat kebersamaan kita bukan saat yang tepat. Kita akhiri saja..' pungkas Resna.
Lian memukul meja dengan geram.
'Apa yang dipikirkan Resna sebenarnya?' katanya
Dina memandang Lian 'Resna sedang mengalami saat-saat yang buruk, Li.. terlabih dia melihatmu merangkul Linda saat itu. kau harus mengerti apa yang mengganggu pikirannya..'
'Tapi dia memutuskanku. MEMUTUSKAN hubungan denganku. dia tidak menerima penjelasanku..'
Lian duduk dengan lemas.
'Tidak tahukah dia?' Lian merintih
'Li, bersabarlah. biarkan Resna tenang.. baru datang kembali dan jelaskan padanya.. mengetilah keadaannya..' Dina berusaha menenangkan Lian
'Tapi aku tidak punya banyak waktu Di..' kata Lian gusar.
'Apa maksudmu?' Tanya Dina tak mengerti
Lian tidak menjawab dan hanya menghela nafas sambil menerawang jauh.
Sudah berjalan 5 hari sejak Resna memutuskan hubungan dengan Lian, den keadaannya justru tidak membaik seperti harapannya.
Persidangan perceraian orangtuanya sudah terbayang didepan mata, dan Resna melewatkan malam-malamnya dengan menangisi perasaannya yang begitu dalam kepada Lian.
Hanya Lian. Dia mulai berfikir bahwa mungkin keputusannya salah, tapi dia tidak bisa membayangkan jika harus menemani Lian yang gila olahraga, padahal sekarang kedua kakinya lumpuh dan belum ada tanda-tanda akan sembuh. Resna mulai kehilangan harapan.
Tiba-tiba Bel motor tukang pos membuyarkan lamunannya.
dia melihat pak pos menyelipkan sepucuk surat di kotak surat miliknya. Resna bergegas menuju jalan dan mengambil surat tersebut. tidak ada alamat pengirimnya.
Dadanya tiba-tiba berdebar. ada sebuah firasat buruk yang tidak bisa dijelaskannya. dia merobek amplop dan segera menbaca isinya.
"Dear, Resna. Gadis berkursi roda yang slalu dihati yang mencintanya..
Begitu bunyi pembukaan suratnya. Hati Resna semakin tidak tenang.
Aku meminta maaf atas kesalah pahaman kita.
aku mencoba menjelaskan tapi kamu nggak mau mendengar kata-kataku.
Aku berusaha menemuimu tapi kamu menghindari aku terus menerus.
Aku mencoba menghubungi ponselmu tapi kau tidak pernah menerimanya.
Aku menulis ini dari rumah sakit. Aku tidak punya banyak waktu.
Tapi aku berharap masih sempat mengatakan jika saat itu aku hanya mau mengantar Linda pulang, kemudian langsung menonton pentasmu.
Aku hanya sedang menunggu buket bunga yang kupesan untukmu, itu sebabnya aku blum masuk ke studio ketika pentasmu mulai. bahkan ketika pentasnya berakhir. tapi ternyata kau lebih dulu melihatku memapah Linda sebelum aku sempat menjelaskan apa yang terjadi.
Kau tak sempat mempercayaiku.
Tapi tak apa. aku bahagia sudah menjadi milikmu. mendengar kata-kata kau mencintaiku. Aku mencintaimu. selalu.
Salam sayang,
Lian.
Resna bagaikan tersambar petir. dia segera berteriak memanggil ibunya agar mengantarnya kerumah sakit. dia menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan gusar, dan meminta agar ibunya mendorong kusi rodanya semakin cepat dan semakin cepat.
Resna tiba dikamar Lian tepat saat ibu Lian berteriak histeris meminta agar Allah mengembalikan nyawa anaknya.
Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Sepi dan ditinggalkan. Bukannya berkawan dengan tawa dan tertawa bersama orang yang kucintai, atau melihat mereka tertawa karena saling mencintai.
Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Ditinggalkan oleh mereka yang kucintai. Ayah, Kekasih, bahkan Dunia yang kucintai.Tapi aku mengerti bahwa seluruhnya hanya-lah kedar perpindahan tempat. tanpa meninggalkanku.
Ayah berpindah tempat dari sisi ibu ke sisi jodohnya yang lain, tapi aku tetap anak yang dicintainya.
Lian berpindah tempat dari sisiku ke sisi pemiliknya yang abadi, tapi tetap mencintaiku.
dan aku hanya berpindah tempat dari kemampuan berdiri ke atas kursi roda.
dan hobiku menari berpindah dari yang kualunkan secara fisik menjadi kualunkan dalam hati dan pikiranku.
tak apa. inilah hidup.
Allah selalu mencintaiku..
Resna menutup bukunya, dan memejamkan mata sejenak sambil mengusap nisan pusara Lian. kemudian beranjak pergi..
Sabtu, 04 Agustus 2012
Mungkin Memang Seperti Ini Seharusnya.. (Bag. 2 - Habis)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.49 0 comments
Labels: Cerpen
Jumat, 08 Juni 2012
Sepucuk Surat untuk Kesekian Kalinya
Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa, tapi aku tahu kalau aku pernah berharap kamu tercipta untukku.
Hanya saja untuk mengatakannya padamu, aku pikir cukup aku dan Pencipta perasaan ini yang tahu. Dan pembaca tulisan ini tentunya.
Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa, tapi aku merasa bersalah ketika meminta pada Pencipta rasa ini untuk mengabulkan harapanku agar kamu tercipta untukku.
Hanya saja untuk menangani apa yang sedang kurasakan ini cukup menghabiskan dayaku. Kuakui, aku tidak tau tentang bagaimana menghadapi keadaan seperti ini, tapi aku berusaha semampuku menyerahkannya pada pemiliknya yang hakiki. Dan mengelolanya dengan sebenar mungkin, agar tidak menjadi penghalang bagi kita untuk meraih surgaNya.
Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa. Tapi aku ingin meminta maaf jika aku sudah berani menatapmu dari kejauhan, atau merasa terluka mengetahui kamu memuji gadis lain. Maafkan aku.
Dan jujur, aku lelah mendengarmu dekat dengan dia, atau dia, atau dia. mungkin salahku juga karena aku memutuskan mengagumimu. Aku juga menyadari bahwa ketika aku memandangmu, ada banyak pasang mata yang juga memandang dengan sinar mata berbinar kearahmu. Tapi apa aku bisa memilih? Aku tidak pernah meminta pada Sang pencipta agar diberi rasa seperti ini padamu. Sejak mengenalmu, aku tidak pernah berharap untuk bisa dekat denganmu atau memilikimu. sama sekali tidak. Entah mengapa kemudian dalam perjalanannya perasaan ini ada dan bertahan lama sekali.
Tapi bukankah DIA pemberi segalanya? Maka DIA pula yang memberi rasa ini. Hanya saja aku belum mengerti, kenapa DIA menakdirkannya terjadi padaku sedangkan kamu ditakdirkan untuk bersama orang lain. Tolong bantu aku mencari artinya.
Aku tahu, menulis seperti ini sedikit percuma. karena aku tak pernah berani mengirimkannya secara langsung padamu. aku hanya berharap kamu membacanya ketika tanpa sengaja membuka dunia tanpa batas ini. Aku hanya.. entahlah. Aku hanya membutuhkan seseorang atau sesuatu untuk mengungkapkan yang kurasakan. Dan maafkan aku karena memilih media sosial yang sangat luas ini. Tapi aku melindungi identitasmu sebisaku. Sungguh..
Siang ini aku malu sekali ketika mengadu padaNya karena merasa lemah mengingatmu. Bagaimana aku merasa lemah untuk seseorang yang belum halal untuk kucintai? Mencumbui bayanganmu melalui dunia maya. membuka timeline twittermu, akun facebookmu. Berharap ada sedikit petunjuk untuk keputusan yang harus kuambil atas rasa ini. Maafkan aku memata-matai hidupmu dengan cara ini.
Dan sekarang aku berharap kelak akan tiba pula pada masa yang aku butuhkan. Masa dimana aku tak harus berdosa untuk mencintai ciptaanNya. Mungkin setelah ini kamu takkan pernah tersenyum jika bertemu denganku--Jika mungkin bisa bertemu--. Mungkin juga kau akan berlalu begitu saja. Mungkin juga kamu akan menganggapku tak ada. Mungkin juga kau takkan pernah berbicara padaku. Mungkin juga aku berhenti menunggu dering telepon darimu, tau pesan singkat darimu yang membicarakan hal yang tidak seharusnya. Atau mungkin aku yang harus menghilang dari peredaranku di orbitmu. Tak apa. Aku sudah memikirkan tiap kemungkinan yang akan terjadi. Aku sudah siap. Mungkin memang seharusnya begitu. Agar rasa ini tak semakin liar tumbuh dalam hati yang belum layak untuk menjamah hati makhluk indah sepertimu. Agar rasa ini tak menjadi pemberat langkahmu, atau langkahku. Agar rasa ini tidak meracuniku dan membuatku bersedih. Agar rasa ini tidak membuatmu canggung bersikap padaku. Agar rasa ini tidak menyakiti orang lain. Agar rasa ini tidak menghancurkan hidup siapa-siapa. Dan agar rasa ini menjadi kebahagiaan yang tepat...
Sebagaimana fitrahnya.
Hanya saja begitu lelah rasanya berdiri disini memandang gemerlapmu hari ini. Semoga IA memaafkanku untuk semua ketidakmampuanku menundukkan pandanganku terhadapmu.
Dan untukmu, aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa. Tapi semoga kau tercipta untuk seseorang yang tepat dan sudah seharusnya disisimu. Yang membahagiakanmu dan menjadi makmum yang baik. Yang menjadi teman dan jembatan yang sesungguhnya. Aamiin.
Aku hanya berharap jika tulisan ini dibaca, semoga tulisan ini mampu menyampaikan suatu harapan dan pelajaran agar perasaan cinta seperti ini menjadi media untuk kita memperbaiki diri. Dan perasaan yang belum bersambut tak seharusnya menjadi kapak penghancur. Bukan hanya aku dan kamu. Tapi semua orang yang membacanya.
Buatlah dirimu menjadi imam yang baik untuk istrimu, dan aku akan mempersiapkan diri agar menjadi istri yang baik untuk imamku kelak..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.44 0 comments
Labels: Tulisan Bebas
Mungkin Memang Seperti ini Seharusnya (Bag.1)
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Sejuk. Kicau burung melebur dalam hiruk-pikuk aktivitas yang yang mulai bergeliat memadati ceruk-ceruk kehidupan.
Dan bukannya dilalui dengan berbaring menunggu gelap, dan detik selanjutnya menunggu gelap menjadi pagi kembali.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Ceria. semangat terkepul dalam segelas susu, teh, atau kopi hangat.
dinamika tentang harapan dan cita-cita sedang ranum-ranumnya dikejar.
Dan bukannya dilalui dengan memegang buku serta menggores pensil dan terdiam di keremangan kamar. menuliskan keputus-asaan dan berharap Tuhan membalas segala keluhannya dengan menyudahi kerja paru-paru atau detak jantungnya.
Resna menghela nafas. dia memandang nanar pada burung yang hinggap di teralis jendela kamarnya. dengan susah payah dia menggerakkan maju kursi roda yang sudah seminggu ini menopang tubuhnya.
'Hai.. kamu mau bermain? Aku sudah tidak bisa. Aku kemana-mana harus pakai kursi berjalan jelek ini.' Ujarnya.
'Andai aku bisa terbang saja sepertimu..'
'Na, sarapan sayang..' Bunyi pintu diketuk seiring dangan terdengarnya suara ibu. Resna mendongak dan tersenyum.
'Iya, Bu.. sebentar lagi..' Resna menggerakkan rodanya dan menuju pintu. Ibu membuka pintu dan mengambil alih kendali kursi roda Resna.
'Bu, Resna tidak usah sekolah lagi ya..' seketika Ibu terdiam dan berhenti tiba-tiba.
'Kenapa Resna bilang seperti itu?'
'Aku malu bu. Aku sudah tidak bisa seperti teman-teman. Aku mau menyusul ayah..' Resna mulai terisak. Dada ibu terasa ikut sesak. terbayang di benak wanita 40 tahun itu kejadian seminggu yang lalu...
Saat itu hujan gerimis. Resna sedang menyisir rambutnya ketika Ibu dan Ayah baru saja bersitegang. Resna segera berlari turun, dan mendapati ibunya menangis sesenggukan.
'Ibu kenapa?'
Ayahnya dengan dingin melewati Resna, tapi Resna menahan tangan ayahnya. dia tau dia cukup dewasa untuk tau sebenar-benarnya apa yang terjadi.
'Ayah mau kemana? Ada yang belum selesai disini.'
'Kamu anak kecil tidak usah ikut campur! kalau menurutmu ini belum selesai, Baik! Akan ayah selesaikan! Mulai sekarang, kita berpisah, Bu! kamu urus Resna. Aku akan urus surat-surat perceraiannya!' Teriak Ayah Resna.
Resna tercengang. seketika dia menahan tangan ayahnya lebih erat
"Ayah tidak serius mau begitu..' ucapnya parau. sementara ibunya semakin sesenggukan menahan tangis, dan hampir tidak bisa berkata apa-apa.
'Ayah serius Resna!' katanya gusar. Dia melangkah keluar rumah dan Resna mulai mengejar.
'Ayah..! Ayaaah..!'
Langkah ayahnya terhenti. melihat mata merah dan ekspresi geram ayahnya, nyali Resna menciut juga. tapi dia berteriak.
'Kalau ayah memang lebih memilih meninggalkan kami untuk wanita murahan di kantor ayah, silahkan! aku menyesal dilahirkan sebagai anakmu!'
Mendengar ucapan anaknya. Ayah Resna semakin kalut. secara tiba-tiba dia meringsek maju dan mendorong Resna sedemikian kuatnya hingga Resna terpelanting. tangan Resna sempat meraih stang motornya, tapi ternyata motor itu tidak cukup kuat menopang gaya yang bekerja pada tubuh Resna, hingga roboh dan menimpa kedua kaki Resna. Resna menjerit kesakitan, dan menjadi lebih histeris ketika melihat darah mengalir dari kedua kaki Resna.
Ayah Resna tertegun memandang kejadian itu, sedetik kemudian dia berteriak memanggil ibunya. Resna tak ingat apa-apa lagi hingga dia terbangun di Rumah Sakit keesokan harinya.
Ibu menghela nafas.
'Sabar ya sayang..' ucapnya sambil tersenyum. kemudian meninggalkan Resna di ruang makan.
Resna tersenyum pahit. kemudian kembali ke kamar dan membuka bukunya.
..Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. kelam, dan hambar. bukannya ceria dengan kicauan burung atau kupu-kupu yang beraneka warna membuai Sang Bunga.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Dingin, dan kesepian.. bukannya berkawan dan tertawa bersama mereka yang kau cintai, atau melihat mereka bahagia karena saling mencinta..
Resna tidak tau kapan tepatnya semuanya berantakan. dia tidak tau. atau mungkin tidak menyadari. atau mungkin sebenarnya terlalu disembunyikan. entah.
Dia hanya bertanya-tanya apakah jika dia menikah dengan Lian--kekasihnya yang sekarang-- dia juga kan mengalami kejadian pahit seperti ini.
Tiba-tiba dia teringat kalau sejak kemarin belum bertemu atau bicara pada Lian.
Dia ingin menghubunginya, tapi.. apa Lian mau menerimanya?
Bukankah dulu Lian pernah bilang padanya kalau Lian mencintainya melalui gerak luwes Resna ketika menari?
Dan sekarang Resna sudah tidak bisa menari.
Resna mengangkat ponselnya dan memasukkan nomor Lian, bersiap menelponnya. tapi kemudian mengurungkan niatnya dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci...
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.17 0 comments
Labels: Cerpen
