Selasa, 17 Januari 2012

Sepucuk Surat dari Sang Bulan, Sebuah ledakan yang tak lagi tertahan.

Aku slalu berkata pada diriku sendiri, setidaknya aku pernah menjadi bulan yang kau puja ketika kau tenggelam dalam gelap malammu.
Walau kini ketika kau sudah mulai melihat fajar, kau menemukan mentari yang lebih terang daripada aku..
tapi memang setidaknya aku pernah kau puja walau kini tidak lagi.
seharusnya ku sudah cukup bahagia menjadi sesuatu yang menemanimu ketika kau terjebak dalam kebutaan yang pekat.
tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Egoisme ini terlalu melekat kuat, berat untuk kupungkiri.
Seeorang macam apa yang telah tega meninggalkanku untuk matahari? sedangkan aku memberinya seluruh cahaya yang kupunya untuk mengangkatnya dari keredupan.

Kau slalu memuja mentari? selalu?
kau pikir matahari jauh lebih hebat dari aku?
tapi pernahkah kau berfikir, bagaimana kau layak mendapatkan sesuatu yang sebesar mentari jika pada sesuatu sekecil aku kau tak bisa mempertanggungjawabkan harapan yang kau ciptakan padaku?
pernahkah kau berfikir, sehebat apa mentari jika tak mampu menerangimu dalam gelap malammu?
Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan tempat kau meratap dalam gelap malammu.
bagaimana aku bisa setidak-berarti itu dimatamu?
ataukah mentari yang bias sinarnya terlalu terang itu terlalu menyilaukanmu?
ataukah kecerahan mentari itu telah meredupkan sinar perak pucatku?

Sudah pasti aku kalah jika kau sandingkan pada mentarimu itu.
Sudah pasti.
Tapi tak seharusnya kau mensejajarkan aku dengannya. Apalagi untuk memilih!
Siapa dirimu, kau pikir?

Aku mempertahankanmu bahkan ketika badai dinginnya angin malam menghembusmu.
Aku mengawasimu, berjaga untuk keamananmu bahkan disaat kau mengalami titik paling terang dihidupmu. walau untuk bertahan melihatmu dalam terang mentari aku harus merasakan perih..
Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan yang kau tinggalkan demi bias mentari.
Kenapa tak juga bisa kau melihatku?
Kenapa tak lagi bisa kau melihatku?

Tapi Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan yang akan terus bersinar walau tak terlihat.

Mungkin kau bertanya, kenapa tulisan ini bukan lagi tentang rumput dan ilalang?
kenapa sekarang bulan dan mentari?
semua itu karena seiring menghilangnya malam aku --bulan-- terus menerus dan semakin meredup, sedangkan kau makin bersinar dalam terangnya mentari dalam hidupmu.

Aku.
Diujung senja peraduanku.

Selasa, 10 Januari 2012

Jangan Malu jadi Mahasiswa PGSD

     PGSD? Sering kali itulah yang ada dalam benak teman-teman kalau biicara tentang jurusan PGSD. Kenapa? Karena mindset teman-teman sudah terpatri bahwa PGSD nantinya hanya akan menjadi guru SD. Guru SD yang tiap harinya berkutat dengan anak-anak usia 7-12 tahun yang sangat badung. Guru SD yang gajinya sedikit. Guru SD yang harus berurusan dengan semua tetek bengek sekolah yang menyebalkan. Dimata sebagian besar rakyat Indonesia, guru SD adalah profesi yang tidak bergengsi.

     Namun semua mindset itu mulai goyah ketika ada isu dari pemerintah yang menyebutkan bahwa kesejahteraan guru SD akan sangat diperhatikan dimasa mendatang. Mulai-lah para orangtua berbondong-bondong menyuruh (baca: menyarankan) anaknya untuk mengambil jurusan ini. PGSD menjadi jurusan yang popular di masyarakat. Puluhan ribu fresh graduate dari SMA menyerbu jurusan ini. Sayangnya, yang tau hal-hal semacam ini juga hanya para pendahulu kita yang profesinya bersenggolan dengan dunia pendidikan. Dimasyarakat biasa, tetap saja profesi guru SD adalah suatu hal yang kurang membanggakan.

     Lebih lanjut, jurusan yang nantinya mencetak pendidik awal generasi penerus bangsa ini tetap saja ‘terpinggirkan’. Kenapa begitu? Karena dimata mahasiswa dari jurusan lain, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang kurang modis. Bahkan, pada beberapa universitas yang memisahkan kampus PGSD-nya dari kampus utama gap social ini semakin terasa. Setiap kali menjejakkan kaki di kampus utama, langkah mahasiswa PGSD diiringi tatapan aneh dari teman-teman diluar jurusan PGSD. Tentu tidak semua seperti itu. Ada juga yang menghargai perbedaan. Tapi untuk mahasiswa gaul diluar sana, PGSD bukan termasuk mahasiswa yang bisa disebut keren.

     Dari berbagai fenomena inilah, maka banyak sekali mahasiswa jurusan PGSD menjadi tidak bangga menjadi bagian jurusan mereka. Mereka mengambil jurusan ini hanya atas dorongan orangtua dengan mempertimbangkan gaji jika sudah menjadi PNS nanti. Itu juga tidak salah. Orangtua mana yang ingin menyesatkan anaknya?

     Tapi kawan, PGSD sebenarnya bukan hanya jurusan pendidikan guru, tetapi juga sekolah kepribadian. Kenapa begitu? Karena ketika kita menapakkan kaki di PGSD, untuk 4 tahun mendatang kita akan digodog menjadi pribadi yang santun dan bermasyarakat. Mahasiswa PGSD lebih bisa melihat situasi masyarakat yang ada. Karena mereka memang nantinya kembali pada masyarakat lapisan menengah kebawah. Karena mahasiswa PGSD nantinya berjuang ditengah-tengah dinamika masyarakat yang hingga saat ini aspirasinya belum tersalurkan. Dan yang lebih penting, mahasiswa PGSD menjadi tonggak perbaikan bangsa karena mereka-lah yang menyiapkan generasi muda penerus negara ini.

     Karena tugasnya yang berat inilah, mahasiswa PGSD digembleng dengan berbagai kegiatan yang membentuk karakter mereka. Mulai dari rangkaian kegiatan kepramukaan yang melelahkan, sampai pada kegiatan perkuliahan yang mengharuskan mereka berlatih berbicara di depan orang banyak, termasuk berlatih memanagemen banyak orang didalam satu ruangan. Hal-hal seperti inilah yang baik disadari atau tidak juga membentuk karakter mereka. Secara tidak langsung, mereka telah mempersiapkan diri mereka sekaligus membangun kembali karakter manusia Indonesia yang seutuhnya. PGSD yang notabene ‘terpinggirkan’ justru adalah salah satu elemen penting pembangun bangsa.

    Alasan lain adalah, kuliah di PGSD secara tidak langsung mendidik kita baik dari cara berpakaian, cara bicara, hingga cara bergaul dalam masyarakat maupun sesama teman. Kita tanpa sadar telah terbiasa berpenampilan dan bergaul di masyarakat sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat dan juga dosen-dosen dari jurusan lain bahkan mengakui bahwa ketika mahasiswa diterjunkan dalam masyarakat, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang lebih mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

     Mahasiswa PGSD adalah seorang generalis, terspesialisasi dalam kemahirannya di salah satu bidang, misalnya tari, music, karya ilmiah, penelitian, cabang olahraga, bidang lainnya. Sehingga modal jurusan ini untuk bisa berkembang sangat mumpuni. Keuntungan mahasiswa PGSD yang generalis sudah teraih,  dan masih pula mendapat fasilitas untuk mendalami spesifikasi tertentu. Jika seorang generalis 'banyak tahu' dalam artian mengerti banyak hal tapi dangkal, seorang spesialis 'tahu banyak' dalam artian sedikit hal tetapi dalam. So, tugas mahasiswa PGSD yaitu menjadi 'GEN SPESIAL'. Mengerti banyak hal dan dalam. (Siron, 2012)
Jadi? Jangan malu jadi mahasiswa PGSD!

Seminar Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) Se-Jawa Himpunan Mahasiswa PGSD FIP UNNES, Salah Satu Pergerakan Mahasiswa Dalam Menyukseskan Pendidikan Karakter

Sabtu (7/1 2011) bertempat di Kampus Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Semarang (UNNES) Himpunan Mahasiswa PGSD FIP UNNES menggelar Seminar Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) Se-jawa setelah mengadakan Lomba Gagasan Tulis Ilmiah Se-Jawa untuk pertama kalinya. LGTI ini diikuti oleh berbagai Universitas di seluruh Jawa, antara lain UNTIRTA, UNJ, IKIP PGRI Semarang, IKIP PGRI Jogja, Polines, UMK, UNY, UNEJ, UGM, UNIBRAW, IKIP PGRI Madiun, dan Sang Tuan Rumah, UNNES.

Ketua Jurusan PGSD, Dra.Hartati, M.Pd mengatakan Seminar yang merupakan tindak lanjut dari Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) yang dimulai sejak Akhir November 2011 ini merupakan pergerakan kebangkitan mahasiswa untuk melakukan pembangunan nasional, terutama dibidang pendidikan karakter bangsa sehingga pada akhirnya mampu membangun kembali peradaban moral generasi penerus bangsa. Lebih lanjut, banyak pihak berharap LGTI yang merupakan agenda terakhir HIMA kepengurusan 2011 ini dapat menjadi stimulus kepada mahasiswa untuk produktif dalam menelurkan ide-ide baru dalam kancah karya ilmiah.

Seminar LGTI ini disambut oleh antusiasme yang hangat dari mahasiswa. Terbukti dari jumlah total peserta seminar sebanyak 142 yang telah mengalami penambahan kuota dari total peserta awal yang hanya 100 peserta. Seminar yang dirancang dalam format persentasi dari 10 karya Gagasan tulis yang telah berhasil menyisihkan 70 gagasan yang telah masuk ke Panitia untuk kemudian diseleksi menjadi 3 gagasan yang terbaik. Para finalis memperebutkan hadiah berupa trophy, sertifikat, serta uang pembinaan sebesar Rp. 1.000.000,00 untuk juara pertama, trophy, sertifikat dan uang pembinaan sebesar Rp. 600.000,00 untuk juara kedua, serta trophy, sertifikat dan uang pembinaan sebesar Rp. 400.000,00 untuk juara ketiga.

Ke-sepuluh finalis 10 besar LGTI ini terdiri dari 5 gagasan tulis dari mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), 2 gagasan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 1 gagasan dari IKIP PGDRI Madiun, 1 gagasan dari dari IKIP PGRI Semarang, dan 1 gagasan dari Universitas Brawijaya.

Untuk menyeleksi kesepuluh karya tersebut, HIMA PGSD menghadirkan tiga juri dari Universitas Negeri Semarang yang telah diakui mampu dalam bidang keilmiahan. Juri tersebut adalah Arif Widagdo S,Pd, Drs. Wardi M.Pd, serta Farid Ahmadi S,Kom, M.Kom.

Dalam penilaian juri, terpilih Pagelaran Wayang panas sebagai Inovasi Pengembangan Media Pendidikan Karakter Pada Siswa di Sekolah Dasar (Agustin Anggriyani) sebagai pemenang pertama, Internalisasi "4 propectic character" Sebagai Nilai Luhur dan Dasar Perilaku Berkarakter melalaui Permainan Tradisional Modifikasi pada Anak Usia Dini Sekolah Dasar: Stategi Mikro Program Pendidikan Karakter Untuk Menyukseskan Gerakan Aksi Nasional Pendidikan Karakter 2010-2015 (Vebby Astri Rizkilia UNIBRAW) sebagai pemenang kedua, dan Cheerdio ( Cheerfull Radio ) Sebagai Pembersih Polusi Karakter pada Anak-Anak Usia Dasar (Desty Putri Hanifah UNNES) sebagai pemenang ketiga.

“Karya ini merupakan sebuah ide inovasi pendidikan karakter yang brillian dan bebas plagiarisme dalam masyarakat. karya ini sederhana namun apabila terlaksana akan menjadi media pendidikan karakter yang luar biasa. Bisa dipatenkan menjadi hak kekayaan intelektual” Ujar Arif Widagdo disela-sela penjurian. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya mahasiswa-mahasiwa yang mengikuti lomba LGTI ini khususnya telah memiliki capabilitas yang mampu membawa Indonesia kearah yang lebih baik.

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir