Kamis, 08 Desember 2011

Upaya Sadar Politik dalam Pemilihan Raya Unniversitas Negeri Semarang (UNNES)

Universitas Negeri Semarang (UNNES) belakangan ini dihebohkan oleh Pemilihan Raya Keluarga Mahasiswa atau yang biasa kita sebut Pemira periode 2011/2012 yang akan dilaksanakan tanggal 14 Desember 2011 nanti. SepertI yang telah disosialisasikan, Pemira tahun ini diikuti oleh tiga calon. Dengan diselenggarakannya Pemira, berarti hal terpenting yang disoroti adalah mengenai kesadaran politik mahasiswa.

Kampus, selain sebagai lembaga pendidikan, juga menggambarkan miniature kehidupan bernegara, terutama mengenai aspek politik. Kecenderungan aspek poltik ini semakin terasa kuat pengaruhnya ketika memasuki masa-masa pemilihan raya seperti saat ini. Namun, berdasarkan pemahaman yang ada sekarang, politik itu memang berarti sesuatu yang ‘kejam’. Bagaimana tidak, jika dalam sebuah pameo dikatakan, bahwa dalam politik tidak ada teman yang abadi, tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.

Menurut Henry S, dalam www.sumajanews.com, Pendidikan politik telah diatur dalam kurikulum Sisdiknas untuk memenuhi kebutuhan politik para pelajar dan mahasiswa. Tetapi bagi sebagian remaja, terutama mahasiswa yang notabene sudah dianggap mampu berpolitik dalam tingkatan lebih kompleks, ternyata masih kurang kesadaran politiknya. Bukan bermaksud sinis, tetapi menumbuhkan kesadaran politik dikalangan mahasiswa memang merupakan hal yang penting. Hal ini bertujuan bahwa sebagai mahasiswa kita dituntut untuk kritis sekaligus solutif dalam lingkungan masyarakat.

Selain itu, kesadaran politik perlu dibangun sedini mungkin pada kalangan mahasiswa mengingat merekalah yang akan menjadi pemengang pimpinan bangsa ini dengan sportif dan tanpa mengacuhkan norma-norma yang berlaku di bangsa kita. Tanggungjawab kita selanjutnya adalah bagaimana caranya agar terbangun kesadaran politik dalam diri masyarakat. Pada Buletin Express edisi 8 November 2011, tertulis bahwa pada Pemira tahun 2010 kemarin, dari 24000 mahasiswa hanya sekitar 6000 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya. Selain itu, fenomena lain terjadi ketika diadakan dialog Presiden mahasiswa yang terlihat sedikit peminat. Hal ini dapat memicu adanya mahasiswa yang tidak memberikan hak suaranya pada saat Pemira, dengan alasan tidak mengenal calon Presma yang mengikuti Pemira. Hal ini tentu harus ditanggulangi, karena pemilih yang cerdas merupakan salah satu syarat terselenggaranya pemilu yang berkualitas. Pemilu yang berkualitas harus meliputi kontestan dan pemilih yang beretika, taat aturan main, media yang sehat dan objektif, penyelenggara juga objektif, dan pemilihnya cerdas. Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang memahami peraturan pemilu, mengetahui orang yang dipilihnya dan pemilih yang tidak mau dibodohi oleh calon yang menggunakan politik iming-iming sebagai alat berkampanye.

Kita harus mencontoh aksi Himpunan Mahasiswa Islam di Jakarta yang mendirikan gerakan pemilih cerdas sebagai salah satu solusi mengurangi mahasiswa yang golput, serta memulai perybahan mendasar di kalangan mahasiswa. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberi stimulus kapada para mahasiswa untuk tutut serta menentukan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka melalui media yang persuasif, misalnya dengan inovasi cara kampanye atau mengadakan teatrikal tentang pentingnya hak suara mereka untuk lembaganya.

Alternatif selanjutnya adalah dengan membudayakan partisipasi mahasiswa diluar organisasi penyelenggara Pemira dalam menentukan sistem pemungutan suara. Dengan begini, mahasiswa akan merasa bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan, sehingga akan tumbuh rasa peduli dalam diri mereka. Mari kita canangkan suatu perubahan.









Kharissa Widya Kresna

PGSD FIP UNNES 2011

085742946406

Rabu, 07 Desember 2011

Pendidikan Karakter, Untuk Siapa?

Dewasa ini ramai sekali diperbincangkan mengenai pendidikan karakter, setelah maraknya kasus korupsi yang terbongkar di negara ini. Tetapi apakah pendidikan karakter itu?

Menurut mandikdasmen dalam situs mandikdasmen.kemdiknas.go.id dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Tetapi apakah pelaksanaannya sudah sesuai dan mencakup seluruh aspek tersebut?

Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan fungsi Pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; dan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tetapi terlepas dari itu, prihatin sekali ketika saya mendapati kasus di desa kecil disebuah kabupaten di Jawa Tengah, ada oknum guru yang tertangkap basah terlibat dalam sindikat perdagangan siswi SMK Swasta ternama di kabupaten tersebut. Contoh yang lebih sepele adalah bahwa masih saja ada oknum guru -baik PNS maupun guru wiyata bakti- yang sering membolos kerja dengan berbagai alasan. Padahal pemerintah setempat sudah sering mengadakan sidak untuk mengurangi ketidakdisiplinan guru.

Sekarang mari kita pikirkan. Apa gunanya kita gencar menanamkan pendidikan karakter pada peserta didik jika sebagai pendidiknya saja ‘bermasalah’ dengan karakter? Bukankah upaya penanaman karakter yang terbaik untuk peserta didik adalah dengan memberi contoh kongkrit dalam kehidupan sehari-hari? Pendidikan karakter akan berakar kuat ketika guru menyadari keberadaan dirinya sebagai pendidik karakter dan pelaku perubahan.

Guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan dituntut belajar tentang banyak hal, bukan hanya materi yang akan disampaikan, guru juga harus benar-benar bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menanamkan karakter pada anak sesuai kepribadian bangsa.

Karena kunci keberhasilan dunia pendidikan terletak di tangan guru, termasuk dalam menegakkan pendidikan karakter kepada anak. Sebelum guru mendidik anak supaya berkarakter, terlebih dahulu gurunya juga harus berkarakter.

Oleh karena itu, upaya penigkatan profesionalisme para pendidik merupakan hal mutlak atau suatu keharusan. Hakikatnya, kualitas seorang guru dapat dilihat dari segi moralitas, bijaksana, sabar, serta mampu menguasai materi yang akan diajarkan kepada anak, berikut upaya penerapannya. Guru harus memiliki komitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik, dimulai dari kesadarannya sebagai penutan anak-anak didiknya. Dengan kata lain, guru inspiratif adalah guru yang mampu menularkan pengetahuan dan sekaligus menggerakkan perubahan serta memengaruhi siswa. Jadi, guru inspiratif bukanlah sekadar guru kurikulum, melainkan mampu mengembangkan potensi dan kemampuan siswa, berpikir kreatif, dan mampu melahirkan siswa yang tangguh dalam menghadapi aneka tantangan dan perubahan.

Guru inspiratif mampu membangun iklim pembelajaran dengan kreatif. Model dan media pembelajaran dibuatnya menarik perhatian. Peserta didik pun akan selalu merindukan guru semacam itu untuk terus hadir di kelas. Pembelajaran pun terasa begitu sebentar bagi peserta didik. Usai pelajaran, peserta didik pun mendapatkan pencerahan, termotivasi melakukan perubahan dan pelajaran tertanam dalam. Lebih dari itu, siswa mengalami revolusi diri: cinta pada Tuhan, berubah lebih baik, mengenal bakat terpendam dan kreatif.

Memperingati hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November yang lalu, kita pasti berharap adanya perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia, terutama pada pendidikan karakter ini. Karena pada dasarnya guru-lah yang memegang kendali arah generasi penerus bangsa. Dan kita sebagai mahasiswa, terutama pada mahasiswa calon pendidik sudah pasti memikul tanggungjawab untuk turut serta membangun negara, berawal pada diri dan karakter kita pribadi. Demi Pendidikan Indonesia yang lebih baik. Indonesia Bisa!



Hidup Mahasiswa!

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir